RSS

Pengalaman Umroh Part 4: Berihram

25 Jun

Prolog

Tulisan part 4 ini adalah request dari seorang teman, yang mengusulkan sebuah tulisan reflektif filosofis serius, tanpa dibumbui canda, khususnya saat sedang menulis tentang Ibadah Umroh.

Ka’bah, dengan tempat sa’i sementara

Ihram (dan juga Haji) tidak seperti ritual ibadah lain, misal Sholat, Zakat, atau Puasa, yang merupakan bentuk pelaksanaan ibadah tunggal. Ibadah Ihram merupakan sebuah paket ritual ibadah, dimulai dari (secara berurutan): 1. Miqat, 2. Berpakaian Ihram, 3. Tidak melanggar semua larangan saat berihram, 4. Tawaf, 5. Sa’i, 6. Tahallul, dan, 7. Berakhir dengan melepas kain ihram, tanda kesempurnaan satu paket Ritual Ihram.

Ihram kadang disebut dengan Haji Kecil, karena Haji, dengan melaksanakan segala kontinuitas paket pelaksanaan Ihram tersebut diatas, harus didahului dengan: 1. Miqat, 2., Niat Ihram, 3. Wukuf di Arafah, 4. Mabit (dan mengambil batu jumroh) di Muzdalifah, 5. Jumroh, 6. Mabit di Mina, 7. Tawaf Ifadhoh, 8. Sa’I, 9, Tahallul, dan 10. Barulah melepas Ihram.

Ihram Yaa Hajj!

Masjid Bir Ali, tempat Miqat para Penduduk Madinah dan sekitarnya, dan semua jamaah yang berniat Umroh dari Madinah

Hal wajib sebagai pendahuluan bagi jamaah yang berniat Umroh adalah melaksanakan Miqat. Jika jamaah yang sedang berada di kota Madinah berniat untuk melaksanakan ibadah umroh, maka tempat miqat yang telah ditetapkan adalah Masjid Bir Ali (Sumur Ali/Hulayfah). Tempat miqat akan berbeda-beda bagi tiap jamaah (ada 5 tempat miqat), tergantung darimana dia berasal/berniat untuk umroh.

Apa makna miqat? Miqat adalah niat, niat untuk melaksanakan ihram, berihram. Saat bermiqat, maka kita melepas segala pakaian yang menempel di tubuh, kemudian berganti mengenakan pakaian Ihram, berupa kain putih sederhana, sebuah kain kafan, yang apabila dengan kuasaNya kita wafat saat berihram, maka kita akan langsung dimakamkan menggunakan kain tersebut.

Miqat, bermakna melepas segala atribut diri, segala sandang papan keduniawian, meletakkan segala harumnya parfum dan wangi-wangian identik yang biasa dipakai oleh tubuh, menggantinya dengan aroma alami dari badan kita yang ringkih.

Saat bermiqat, dengan niat dan penuh kesadaran, kita masukkan ke laci segala identitas diri, pangkat, jabatan, status sosial, tingkat pendidikan, gengsi kedaerahan, indahnya warna kulit dan penutup tubuh artificial. Saat kita bermiqat, maka kita telah bertekad untuk menghilangkan jurang perbedaan ras, asal-usul, suku, negara, warna kulit, bentuk tubuh, dan segala takdir ilahi lain.

Melangkah….Berihram

Wahai para pria, lepaskan segala pakaian dan baju dalammu, kubur dalam-dalam sifat egois dan ambisimu, pakaian mahal buatan Versace-mu tidak bermanfaat disini. Wahai para wanita, buka tutup wajahmu, hapus lipstik bedak dan bersihkan make-up mu, singkirkan tas Dolce Gabbana-mu, banggalah dengan kecantikan natural anugrah-Nya. Berihramlah kalian semua!

Sholat dua raka’at, berniat untuk Ihram, melaksanakan umroh. Kita niatkan saat bermiqat: Labbaika Allahumma Labbaik ~> Ya Allah, aku datang memenuhi panggilanMu, hambamu yang hina ini bukanlah apa-apa dihadapanMu, kulepaskan semua lampiran duniawi (walau sementara) dan berusaha menundukkan dan merendahkan diri di rumahMu, dengan satu jenis pakaian yang sama, dengan satu jenis bau yang sama, dengan badan dan pakaian yang sama dengan apa yang akan menghadapmu kelak di Padang Mahsyar, dengan satu badan yang sama: badan yang sama yang dulu terlahir dari Rahim ibunda.

Ya Allah, kami bermiqat, kami semua manusia yang setara, semua berpakaian putih, tanpa jahitan yang bisa menjadi faktor pembeda desain atau penunjuk kelas nasib seseorang.

Semua sama.

Kita semua hanya manusia rendah, tercipta dari tanah, berbalut kain kafan, menuju tanah suciNya, dengan satu niat murni: Berihram.

Pemandangan gurun pasir gersang sepanjang Madinah-Mekkah

Jarak 450 km Madinah-Mekkah begitu cepat ditempuh (6 jam), menggunakan bus teknologi terkini, sangat nyaman, dimanjakan dengan dinginnya pendingin ruangan. Segala larangan Ihram hanya menjadi ilmu sekelebat, sebuah hafalan yang cuma bermanfaat saat ujian kenaikan kelas demi mencari nilai yang terpampang dalam kaligrafi nilai raport pendidikan. Sama sekali tidak ada tantangan, bahkan mungkin banyak yang lupa tentang segala larangan saat berihram.

Jarak 450 km tadi akan sangat berbeda, jika ditempuh dengan menggunakan sarana perjalanan yang belum tersentuh peradaban: Unta, dan bukan Kuda, karena kuda yang paling gagah sekalipun tidak akan mampu menembus perjalanan padang pasir nan tandus. Perjalanan 1-2 bulan lamanya akan membuat seorang manusia benar-benar menghayati apa saja makna Ihram, dengan segala larangannya.

Tidak boleh menebang pohon? Apa yang bisa ditebang dalam perjalanan 6 jam di dalam bis baja yang nyaman? Tidak boleh berhubungan badan? Hanya 6 jam? Bukan hal yang sulit. Tidak boleh berkelahi/menumpahkan darah? Mayoritas (kalau tidak bisa disebut semua) tidur dengan manisnya selama perjalanan 6 jam di bis yang nyaman, dan sekian banyak larangan umroh yang lain.

Jpeg

Jamaah Umroh Al-Habsyi

Bayangkan jika itu adalah larangan yang harus dijalani selama 1-2 bulan, menembus panasnya gurun pasir, terpapar teriknya panas matahari, keringnya hembusan angin dan dinginnya suasana malam, pasti akan amat sangat berbeda.

Berihram berarti menjaga kesucian diri, dari segala larangan, kesalahan, dan kejahatan, karena hanya insan suci yang berhak mengklaim dirinya sah menjadi tamuNya.

Ya, begitulah yang Rasulullah SAW ajarkan kepada kita, umatnya.

Sekumpulan manusia yang mengenakan kain putih, berihram, berduyun-duyun menuju tanah haram, menuju Ka’bah, talbiah bergemuruh dari segala penjuru. Ka’bah berada di tanah haram, tanah yang tenang dan damai, sebuah tanah dimana perkelahian adalah hal yang terlarang, dimana pepohonan tidak boleh dicabut dan hewan tidak boleh disakiti, dimana manusia yang selain beragama Islam terlarang masuk ke kota ini, dan masih banyak aturan lain. Inilah aturan yang telah ditegakkan oleh Rasulullah untuk tanah haramNya, semenjak fathu makkah 14 abad yang lalu.

Umroh 2015 (805)

Ka’bah, berlatar depan Hijr Ismail, malam hari

Rasa haru membuncah saat kaki ini melangkah memasuki pelataran Masjidil Haram. Tasbih, tahmid dan tahlil tidak terhenti, terus masuk menapakkan kaki ke dalam Masjidil Haram, menyesap menyadap nikmatnya anugerah panggilanNya di rumahNya. Kami sempatkan sholat perdana di Masjidil Haram, menyicip setetes kemurahanNya, berupa 100.000 kali lipat pahala ibadah jika dibandingkan dengan ibadah di masjid-masjid yang lain.

Ka’bah akhirnya terlihat di depan mata.

Inilah ka’bah, arah kiblat, tempat yang selama ini menjadi arah seluruh umat Islam di dunia menghadap saat sholat.

Ka’bah tidak seperti bangunan-bangunan lain yang menghadap kesatu arah tertentu. Ka’bah, sebagai arah kiblat ibadah, sebagai arah tujuan, tidak menghadap kemanapun, dan sebaliknya, menghadap ke segala arah. 6 sisi ka’bah menghadap ke segala sisi, keatas, juga kebawah. Memang sudah seharusnya seperti itu, karena akan menjadi sebuah anomali, jika ka’bah sebagai kiblat tujuan menghadap, justru menghadap ke satu arah tertentu.

Kotak Kubus Bernama Ka’bah

Ka’bah bukanlah sebuah bangunan dengan arsitektur menawan bak istana, bukan pula sebuah bangunan yang berisi singgasana mewah, kuburan raja, atau rumah seorang suci.

Bukan.

Ka’bah hanyalah sebuah bangunan berbentuk kubus yang kosong, tidak berisi. Sebuah kotak simple yang terbuat dari batu berwarna hitam dengan susunan sederhana, bertautan terekat erat dengan batu kapur. Sosok desainer ka’bah adalah Nabi Ibrahim a.s., dibantu oleh asisten desainer Nabi Ismail a.s., dengan sutradara utama sang pencipta alam semesta, Allah SWT.

Ka’bah bukanlah ghoyah, bukanlah tujuan utama, bukanlah obyek sesembahan, tidak ada satupun umat Islam yang menyembah ka’bah. Ka’bah memang bukan ghoyah, tapi ka’bah hanyalah wasilah, jalan, cara, teknik, kaifiyah, untuk menyeragamkan arah seluruh Umat Islam dalam menggapaiNya. Ka’bah bukanlah target utama, karena semua hanya atas nama Allah semata.

Jpeg

Menyalami Hajar Aswad, Yadullah, Ikrar Sumpah Setia kepadaNya, Sebagai Tanda Memulai Thawaf

Segeralah kita bergabung dengan kumpulan jamaah berbaju putih yang lain, segera mulai satu tahapan berikutnya dari Ibadah Umroh, segeralah bertawaf, berputar mengelilingi ka’bah 7 kali melawan arah jarum jam (kearah kiri). Ikuti arus manusia yang sedang berputar, mengalir pasrah ikhlas dan tawakkal. Jangan melawan arus, jangan membantah dan memotong aliran, karena niscaya kitalah yang akan terpotong.

Dalam tradisi Arab, jika ada orang yang ingin berjanji/bersumpah dalam sebuah perjanjian perdamaian/persekutuan, maka mereka akan saling berjabat tangan sebagai tanda sah sumpah setia.

Maka ingatlah saat kita akan memulai tawaf, kita harus memberi salam kepada Hajar Aswad, kita usap Hajar Aswad dengan tangan kanan, atau melambaikan tangan kanan kepadanya, bagaikan berjabat tangan dan memberi salam kepada Hajar Aswad.

Berjabat tangan dengan Hajar Aswad? Kenapa? Sebagai simbol, bahwa saat itulah kita berjabat tangan dengan Yadillah, tangan kanan Allah, untuk bersumpah setia kepadaNya, menyatakan diri hanya menjadi hambaNya, sekutuNya, menjadikanNya satu-satunya sahabat bagi kita. Saat kita berjabat tangan dengan Hajar Aswad, saat itu pula  kita meletakkan segala berhala-berhala yang selama ini kita sembah, dan menyatakan diri hanya menjadi hambaNya. Kita letakkan pimpinan, atasan, juragan, bos, sekutu, dan segala ketundukan keduniawian di belakang, kita perbaharui niat, mengupdate tujuan hidup, bahwa hanya Allah lah satu-satunya yang kita sembah.

Tawaf

Bagaikan sungai yang bergemuruh mengitari sebuah batu, kita mengelilingi ka’bah, bersama lautan manusia yang sangat bergairah. Ka’bah laksana matahari yang berada di tengah, sedangkan manusia laksana bintang gemintang yang berjalan di orbitnya dalam sistem tata surya. Karena posisinya di tengah, maka manusia bergerak mengelilingnya dalam bentuk lingkaran. Ka’bah melambangkan ketidakberubahan dan keabadian Allah. Lingkaran yang bergerak menunjukkan aktivitas dan transisi yang berkesinambungan dari Makhluknya.

Setiap orang bergerak mengelilingi ka’bah secara bersamaan. Dalam ger

akan tersebut, tidak ada identifikasi individual apa siapa atau apapun kita. Gerakan ini merupakan proses transformasi seorang manusia menjadi totalitas umat manusia semua, “aku” bersatu menjadi “kita”, yang mewujudkan umat dengan tujuan mendekati Allah.

Maqam Nabi Ibrahim

Bertawaflah sebanyak 7 kali, sebagai simbol 7 lapis langit dan 7 lapis bumi. Mengorbit di ka’bah minimal 7 kali rotasi, selalu menjaga jarak dengan aura gravitasinya, untuk menjaga kesinambungan kehidupan tata surya dalam tubuh.

Selesai tawaf, segera bergerak ke kanan, menuju area Maqam Ibrahim, laksanakan sholat 2 rakaat disana, sebagai tanda bahwa tawaf telah selesai. Di Maqam Ibrahim ini kita mendekat kepadaNya dengan seolah-olah menjadi Ibrahim, di tempat dimana Ibrahim berdiri membangun Ka’bah, merasakan perjuangan sang nabi dalam pencariannya terhadap sosok Tuhan, juga usaha sang nabi dalam membangun ka’bah.

Setelah sholat di Maqam Ibrahim selesai, sempatkan diri untuk meminum air zamzam, melepas dahaga yang didapatkan setelah tawaf. Air zamzam yang berasal dari sumur zamzam, sumur yang terbuat dari pukulan tumit kaki mungil Bayi Ismail, yang pernah tertutup sekian lama, dan kembali digali oleh Abdul Muthollib, kakek Rasulullah SAW, karena mendapatkan ilham dalam mimpinya.

Bukit Shofa

Rasakan kesegaran air sumur zam-zam, kemudian mari bernapak tilas tentang sejarah terbentuknya sumur zam-zam, dalam ritual ibadah umroh yang berikutnya: Sa’i.

Sa’i berarti lari-lari kecil, dimulai dari bukit shofa ke bukit marwah, sejauh + 400m (dikali 7 = sekitar 2.8 km). Dalam Sa’i, kita berperan sebagai Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim a.s., Ibunda Nabi Ismail a.s. Ingatlah kilasan sejarah, saat Nabi Ibrahim meninggalkan Siti Hajar dan Ismail yang masih bayi di lembah Mekkah yang gersang dan tandus, sama sekali tidak ada air, tiada tumbuh pepohonan, juga minus tempat berlindung dari sengatan matahari & hujan. Sendirian, hanya untuk memenuhi perintah Allah.

Sebagai seorang perempuan, rasa nelangsa & nestapa karena perasaan ditinggalkan sendiri oleh seorang suami (bahkan nyaris ditelantarkan) pasti ada, tapi sebagai seorang hamba Allah, perasaan itu harus dikubur dalam-dalam, dan diganti dengan rasa ikhlas, tawakkal, qanaah, dan pasrah total kepada-Nya.

Umroh 2015 (694)

Sa’i 400 m, bolak-balik 7 kali

Siti Hajar mengajarkan kepada kita, bahwa rasa tawakkal terhadap kekuasaanNya bukan berarti pasrah bongkokan menengadahkan tangan menunggu pertolongannya dengan tanpa usaha. Tidak, tidak seperti itu. Tawakkal berarti pasrah, namun adanya usaha dan perjuangan sebagai seorang manusia harus selalu dilaksanakan. Kuncilah motormu yang sedang diparkir dipinggir jalan, baru tawakkal kepadaNya.

Ketika Bayi Ismail menangis meronta-ronta karena kehausan, sedangkan ASI dalam tubuh Siti Hajar telah habis, maka satu-satunya cara yang bisa ia lakukan adalah berlari-lari kesana-kemari, berusaha mencari air, demi kelangsungan kehidupan anaknya, juga kehidupan dirinya sendiri.

Bayangkanlah, saat Siti Hajar meninggalkan Bayi Ismail yang sedang menangis kehausan dan meletakkannya diatas tanah Mekkah yang panas gersang nan tandus, tanpa ada naungan perlindungan dari sengatan matahari, hanya untuk mengejar fatamorgana di atas bukit Shofa, demi satu harapan: “Ada air di sana, untukku dan anakku”.

Daerah Neon Hijau saat Sa’i, Pertanda masuk area Raml/Hirwalah (Mempercepat Lari)

Fatamorgana di puncak bukit Shofa hanya tinggal fatamorgana, hasilnya nihil, puncak bukit Shofa kosong melompong. Saat Siti Hajar kembali melihat ke Puncak Marwah dan melihat fatamorgana lain, dengan sisa-sisa tenaga-nya sebagai seorang perempuan lemah, yang sedang menyusui dan dehidrasi, Siti Hajar berlari-lari kecil menuju Bukit Marwah….dan hasilnya tetap nihil.

Begitu terus hal yang sama terus terulang, sampai 7 kali, Siti Hajar terus berlari dan berlari, demi kelangsungan kehidupan anaknya dan kehidupannya sendiri.

Peranan kita sebagai Siti Hajar dalam sa’i sama sekali tidak seimbang dengan lakon Siti Hajar, karena sama sekali tidak ada rasa takut akan hilangnya kehidupan karena kehausan, juga nir-panas terik dan terjalnya Shofa dan Marwah. Ya, kita hanya sekedar napak tilas, titian muhibah, mengenang sekilas kejadian sejarah Ka’bah, tapi bukan untuk merasakan penderitaan yang sama.

Selesai Tahallul, diatas bukit Marwah

Percepatlah lari kita (hirwalah) saat berada di area neon hijau (dahulu pilar hijau). Untuk sekilas, kita berubah peran menjadi Rasulullah SAW yang juga mempercepat lari di area itu, karena diejek tidak mampu lagi berlari-lari saat melakukan sa’i oleh kaum Kafir Quraisy.

Lakukan hal itu dalam 7 kali perjalanan, dimulai dari bukit Shofa, dan berakhir di bukit Marwah. Mengambil peran Siti Hajar yang lari-lari kecil, dan ditengah-tengah sa’i berganti peran sementara menjadi Rasulullah SAW yang mempercepat lari saat berada di area yang sejajar dengan Ka’bah.

Usai prosesi sa’i di Marwah, berdoalah atas segala rahmat dan anugerahNya sambil menghadap ka’bah. Kemudian potonglah rambut dan kuku (tahallul), maka prosesi Ihram kita sudah selesai. Alhamdulillah.

Lepaskan pakaian Ihram dan kenakan pakaian biasa, rasakan kebebasan, tidak ada lagi larangan-larangan Ihram yang harus dijauhi. Mari tinggalkan Marwah, kembali menuju zam-zam, untuk bertemu dengan Ismail yang telah menggali zamzam dengan tumitnya, memancar deras dibawah kaki Bayi Ismail. Minumlah airnya, rasakan sensasi kesegaran Ismail dan Siti Hajar yang melepaskan dahaga sekian lama dengan meminum air zamzam yang sama.

Umat manusia dari seluruh penjuru dunia juga telah datang ketempat ini, dari bukit Marwah menuju Zam-zam, meminum airnya, membasuh wajah kita, lalu membawa sebagian air zamzam tersebut sebagai oleh-oleh untuk tetangga kita di kampung halaman.

Epilog

Umroh 2015 (737)

Tampak Tampilan Ka’bah Perdana, bagi jama’ah yg belum pernah ke Mekkah, saat ini, selama ada proyek perluasan Masjidil Haram

Haji & Umroh, pun halnya Puasa, adalah perintah Al-Qur’an, yang juga telah dilaksanakan pula oleh umat-umat sebelum Islam datang (Cek “Syar’u Man Qablana” dalam Ilmu Ushul Fiqh). Haji, umroh, dan puasa bukanlah praktek baru ketika Islam datang, akan tetapi praktek ibadah yang telah berjalan sekian lama. Satu hal yang harus ditekankan, bahwa Haji, Umroh dan Puasa disyariatkan untuk Umat Islam bukan karena telah dilaksanakan pula oleh umat terdahulu, akan tetapi karena memang telah diperintahkan oleh Allah SAW dalamAl-Qur’an. Sehingga pola fikir syar’u man qablana harus ditarik dari masa rasulullah SAW ke masa sebelumnya, dan bukan sebaliknya.

Saat Tawaf, kita mengambil peran sebagai manusia yang hina yang bersyahadat ulang terhadapNya, menjadikanNya satu-satunya tuhan & sekutu.

Saat Di Maqam Ibrahim, kita mengambil peran sebagai Ibrahim yang telah membangun ka’bah, bapak monotheisme dunia, sang pemberontak terhadap penyembahan berhala-berhala.

Saat Sa’i, kita mengambil peran sebagai Siti Hajar yang lemah tak berdaya, namun tetap ikhlas & tawakkal terhadap ketentuanNya untuk ditinggal sendirian di lembah mekkah yang gersang nan tandus, dengan tetap berusaha demi hidup seorang Ismail.

Selesai Tahallul, kita mengambil peran sebagai Siti Hajar & Ismail sekaligus, yang bersyukur kepadaNya atas limpahan anugerah menyemburnya air zamzam.

Dan selesai-nya Tahallul juga, lengkaplah sudah permainan peran yang kita lakukan dalam Haji Kecil ini, dan kita pun diharapkan untuk kembali dilahirkan menjadi sosok manusia yang baru.

Refleksi

Sedikit berkontemplasi: Apa sebenarnya pelajaran dari Ibadah Umroh? Saya coba rumuskan, menjadi beberapa hal:

  • Jadikanlah negeri kita sebuah negeri yang aman, seolah kita selalu berada di tanah haram.
  • Ubahlah waktu kita menjadi waktu Ihram, seolah kita selalu berada dalam keadaan ihram.
  • Jadikanlah bumi ini sebuah masjid yang sakral, seolah kita selalu berada di masjidil haram.

…………………………………………………………………………………………………………

Terimakasih kepada seorang guru yang telah mewajibkan saya membaca buku “Makna Haji”-nya Ali Syariati sebelum menulis tulisan ini. Syukron Syeikh, tu buku sukses tamat saya baca dalam waktu 3 hari, sambil bedrest karena sakit di awal ramadhan.

Untuk part 5, akan dibahas sisi lain dari perjalanan ibadah di Mekkah Al-Mukarromah, dengan segala kisah yang ada di dalamnya.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 25 Juni 2015 in Uncategorized

 

One response to “Pengalaman Umroh Part 4: Berihram

  1. dina mandasari limbong

    14 Februari 2016 at 12:54 pm

    Ass,admin kyk nya admin lupa deh nulis,klw pas tahallul, rombongan pada gk ada yg bw gunting,,ada tuh dsitu org yg nawarin gunting rambut dgn imbalan 2 riyal,,bener gak min,,trs ada jg bukit aslinya yg srg dijadiin tmpat duduk

    Suka

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: