RSS

Pengalaman Umroh Part 3: Roudhoh, Masjid Quba, Jabal Uhud, Kebun Kurma, dan Other Story of Madinah Al-Munawwarah

10 Jun

Roudhoh

Umroh 2015 (169)

Suasana desak-desak-an menuju Roudhoh, saat antri dibelakang pembatas yang belum dibuka. Sebelah kanan: Mimbar Rasulullah SAW.

Semua bermula dari Hadist Rasulullah SAW: “….diantara pintu rumahku dan mimbarku adalah salah satu taman (roudhoh) dari taman-taman surga…”. Ya, saat itu Rasul sedang bersabda tentang tempat yang disebut Roudhoh, sebuah area kecil dengan ukuran kurang lebih 22 m x 15 m, sebuah tempat yang maqbul nan mustajab untuk berdoa. Apapun doa yang dihaturkan di sini Insya Allah akan dikabulkan oleh Allah.

Roudhoh terletak di daerah paling depan dari Masjid Nabawi. Di dalamnya terdapat Mimbar tempat Rasulullah jaman dulu menyampaikan khutbah-khutbahnya. Tempat Imam & Muadzin Masjid Nabawi juga berada disini.

Apa tanda kita sudah masuk Roudhoh? Mudah! Karpet di area Roudhoh berwarna Hijau (seluruh karpet di Masjid Nabawi berwarna Merah, kecuali Roudhoh), dan tiang-tiangnya berwarna putih. Ingat ya, karpetnya berwarna Hijau. Jadi, jika misal anda dengan penuh semangat berdesak-desakan masuk ke roudhoh, mengerahkan full power, kok tiba-tiba berhenti diatas karpet warna merah lagi, berarti anda kebablasan. Camkan itu kisanak.🙂

Tempat sekecil itu, sesempit itu, menjadi tujuan dari ribuan orang (jutaan, jika Musim Haji). Semua rela berdesak-desakan hanya agar bisa masuk ke roudhoh, walau hanya sebentar, untuk sholat, memanjatkan doa, dan bertaubat di dalamnya.

Jpeg

Salah satu suasana ibadah di sebuah sudut Roudhoh. Lihat tiang tanda area Roudhoh yang berwarna putih khas, berbeda dengan tiang-tiang lain di Masjid Nabawi

Alhamdulillah, saya juga diizinkan olehNya untuk memasuki roudhoh, 3 kali (sekali saat malam pertama di Madinah, dan 2 kali di siang hari). Saya sudah sering mendapatkan cerita tentang betapa susahnya masuk Roudhoh, betapa hebatnya jamaah yang berdesak-desakan disana, dan akhirnya saya mengalaminya sendiri. Subhanallah, memang unthek-unthek-an. Postur tubuh jamaah Indonesia yang kecil mungil kurus kering (ah, itu mah badan saya thok yak) bukanlah tandingan postur tubuh jamaah-jamaah dari negara lain yang tinggi besar berotot kekar (plus hitam, jika itu dari Afrika). Ndak usah nekat sok ide nyenggol mereka, pasti kita yang terpental. Pasrah saja, sambil berdoa, insya Allah pasti sampe.

Sambil berdzikir sholawat, syahadat, tahlil dan tahmid berulang-ulang, saya pasrah jadi mainan gelombang desakan jamaah yang ingin masuk roudhoh. Mata ini tidak mampu melihat ke atas ke samping, hanya bisa melihat ke bawah, melihat karpet, menanti kaki ini menginjak karpet warna Hijau. Subhanallah, Masya Allah, Alhamdulillah, akhirnya Karpet Warna Hijau itu terinjak! Tak terasa air mata langsung menetes, menangis,

Jpeg

Lihat batas yang jelas antara karpet merah dan hijau. Hijau = Roudhoh, Merah = Bukan Roudhoh

terharu, menyesal, bertobat, campur aduk jadi satu, memuji kebesaranNya. Sekian banyak Jamaah langsung berbaris membentuk shof, untuk melaksanakan Sholat Hajat, berhimpitan, berdesak-desakan. Saya sendiri melaksanakan Sholat sambil menangis, tidak peduli tubuh ini limbung berdiri (saking sempitnya), tidak peduli harus sujud di punggung jamaah di depan, yang ada dalam fikiran hanyalah sholat, berdoa, dan memuji asma-Nya.

Melaksanakan sholat di Roudhoh sepanjang mungkin, sepuas mungkin, sebanyak mungkin yang bisa dilaksanakan (sebelum akhirnya selesai karena diusir Askar -_-‘ ). Berdoa saat sujud Sholat Hajat, sangat lama, menghaturkan segala doa yang bisa lantunkan, meluapkan segala penyesalan dan taubat atas segala dosa dan kesalahan yang pernah dilakukan

Terimakasih ya Allah, sungguh nikmat rezeki yang Engkau berikan kepada hambamu ini. Alhamdulillah.

Umroh 2015 (283)

Jalur keluar Roudhoh akan langsung melewati Makam Rasulullah (berada di sebelah kiri). Tampak Gambar: Dinding Makam Rasulullah SAW, sayyidina Abu Bakar r.a., dan sayyidina Umar Bin Khattab, r.a. Lihat pagar putih? Lupakan tentang dinding makam, bahkan sekedar menyentuh pagar itu pun tidak boleh dilakukan.

Selepas dari Roudhoh, jalur keluar-nya akan melewati makam Rasulullah SAW, sayyidina Abu Bakar, dan sayyidina Umar Bin Khattab. Kembali Shalawat dan Salam terucap dari bibir ini, untuk kekasihNya yang mulia, Rasulullah SAW, dan sahabat-sahabatnya. Kembali air mata menetes, mengingat betapa hinanya diri ini jika dibandingkan 3 manusia mulia yang sedang tidur di dalam makam tersebut.

Saat melewati Makam Nabi dan kedua sahabatnya ini, kita hanya bisa lewat sambil mengucap Shalawat dan Salam saja, tidak kurang, tidak lebih (pengen selfie juga susah). Jangan nekat berdoa macem-macem sampai panjang lebar kali tinggi, apalagi pake acara pengen sholat disana ato megang-megang dinding makam, adanya juga bakal langsung diusir sama Askar sambil diteriakin: “Ya Hajj! Haram! Haram ya Hajj! Dzalika bid’ah!”. Kalau sedang beruntung, dapat bonus kena dorongan penuh cinta dari sang Askar🙂

Note: Jama’ah laki-laki bisa setiap saat menuju Roudhoh, sedangkan untuk jamaah perempuan, waktu masuk Roudhoh dibatasi waktu, antara jam 8-10 pagi dan jam 8-10 malam (CMIIW). Suasana roudhoh untuk perempuan benar-benar seru, seperti pasar, suara ibu-ibu yang riuh tinggi rendah bersatu padu dengan suara Askar Jamaah Perempuan yang melengking. Mantab! Lha gimana saya ndak dengar, lha wong suaranya kedengaran jelas dari pembatas antara pria-wanita. #tepukjidat

Umroh 2015 (217)

Qubbatul Khadra (Kubah Hijau). Tepat dibawahnya adalah Makam Rasulullah SAW.

Di dalam ruangan makam Rasulullah SAW, selain 3 makam (Rasulullah, Sayyidina Abu Bakar r.a. dan sayyidina Umar Bin Khattab r.a.), ada satu makam lagi yang kosong. Konon katanya makam ini kelak diperuntukkan untuk makam Nabi Isa a.s. Wallahu a’lam bisshowab.

Jika dilihat dari luar masjid, Makam Rasulullah SAW tepat berada di bawah kubah warna Hijau (Qubbatul Khadra’). Lupakan segala macam cerita hoax tentang adanya sosok yang tersambar petir di kubah itu karena ingin membongkar kubah (perselisihan lawas nan berkerak antara Wahabi vs Sunni blablabla), karena emang itu hoax. Hoax is hoax. Titik. Obyek yang selama ini diklaim sebagai sosok yang tersambar petir itu tidak lain dan tidak bukan adalah ventilasi kubah. Yaelah bro, ventilasi ituh -_-‘

Umroh 2015 (547)

Lantai keramik berwarna putih itu dingin dan adem. Sangat berbeda dengan lantai keramik berwarna abu-abu yang ada pas tepat disebelahnya yang sangat panas. Silahkan dicoba

Sekeluarnya dari Roudhoh, kami memutar balik ke arah pintu pertama kami masuk, karena sendal ada di sana. Mau tidak mau, ya terpaksa nyeker sepanjang perjalanan, berjalan dengan manis di atas lantai keramik berwarna putih, lantainya adem. Disisi lantai keramik berwarna putih, ada lantai keramik berwarna abu-abu. Iseng saya injak…Muasya Allah panasnyaaaaaaaa. Yang putih sejuk adem, yang abu-abu puanasnya naudzubillah, perbedaannya bagaikan langit dan sumur! (Hal yang sama akan kita temui nanti di Mekkah). Entah kenapa bisa berbeda nasib lantai keramik berbeda warna inih.

Tidak sengaja tau, karena iseng praktek nginjak sendiri, dan saya tidak ingin mengulangi, benar-benar panas menyengat nan membakar. Situ tidak percaya? Coba saja rasakan sendiri, dijamin maknyuz. ^_^

 

Masjid Quba

Jpeg

Narsis sebentar bersama Ayah Ibu dan Adik tercinta di Masjid Quba

Ziarah ke Masjid Quba merupakan salah satu perjalanan yang ditawarkan oleh Al-Habsyi Tour & Travel, jadi satu paket dengan Umroh. Masjid Quba adalah masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah SAW. Masjid ini dibangun saat Rasulullah SAW melaksanakan hijrah dari Mekkah ke Madinah, bersama sahabat sayyidina Abu Bakar r.a.

Jaman dulu, Masjid Quba sangat sederhana: tiang-tiangnya terbuat dari pohon kurma, sedangkan atapnya dari pelepah kurma. Sekarang, jangan tanya, jadi besar dan megah, dengan tiang beton dan taburan teknologi di sana-sini.

Masjid Quba mempunyai keistimewaan: Barang siapa yang berwudlu di rumah, kemudian berangkat ke Masjid Quba dan melaksanakan sholat dua raka’at disana, maka akan mendapatkan pahala yang setara dengan pahala Umroh. Ingat ya, wudlu-nya di rumah, bukan di Masjid Quba. Kl wudlu-nya pas setelah sampai di Masjid Quba, ya sama saja, tidak dapat pahala umroh.

Sebelum kita berangkat ke Masjid Quba, Pembimbing Umroh, Ustadzunal Karim H. Atik Fikri Ilyas Lc. MA., (pengasuh rubrik Konsultasi di web Islampos.com + Dirut Haqiena Media – Maaf ustadz, web Haqiena-nya suspend ituh😀 ) mengingatkan kita, para jamaah, tentang hal tersebut, untuk mengambil wudlu terlebih dahulu di Hotel. Syukron Ustadz.

Sesampainya di Masjid Quba, kita menyempatkan diri untuk Sholat Tahiyyat, Sholat Dhuha + Sholat Hajat, lalu…meneruskan tradisi yang Indonesia banget….foto-foto lagih. Selfito Ergo Sum = Aku berfoto-foto, maka aku ada.😀

Umroh 2015 (402)

Narsis untuk yang kedua kalinya, dengan Ghutra baru #cling

Suasana masjid Quba sangat nyaman, damai, tenang, dan sangat religius, dipenuhi oleh peziarah dari seluruh penjuru dunia, mulai dari yang khusuk ibadah, hingga yang sekedar cuci mata mengagumi arsitektur masjid Quba.

Disini, saya, adik-adik dan ayah mendapatkan satu oleh-oleh ultimate dari Tanah Suci, yang memang sudah kita niatkan untuk diburu sejak masih di Indonesia: Ghutra/Kofiyah/Shemagh. Okeh, sah lah kita menjadi orang ‘Arab…’Arabfatinggenah🙂

Jabal Uhud

Selesai dari Masjid Quba, kita menuju Jabal Uhud, tempat terjadinya Perang Uhud, antara pasukan Rasulullah SAW dengan kafir Quraisy Mekkah. Saya disini tidak akan berkisah tentang latar belakang Perang Uhud, karena sangat panjang. Silahkan baca sendiri di sini, di sini, di sini, dan di sini.

Sepanjang perjalanan dari Masjid Nabawi – Masjid Quba – Jabal Uhud, saya melihat-melihat suasana kota Madinah Al-Munawwarah. Dari perjalanan singkat tersebut, selain kisah singkat dari tour guide tentang Kurma Ajwa/Kurma Nabi yang sangat berkhasiat untuk kesehatan, juga kisah kasak-kusuk tentang khasiat Hajar Jahannam, saya mengetahui bahwa wilayah pemukiman penduduk asli Madinah berada diluar zona radius (kurang lebih) 5 km dari Masjid Nabawi. Daerah yang berada dalam radius tersebut diperuntukkan untuk pondokan/hotel/daerah perdagangan dan pelayanan terhadap jamaah Haji/Umroh.

Jpeg

Jabal Uhud dari kejauhan. Sebelah Kiri (tampak banyak orang diatasnya): Jabal Rumat, tempat pos para pasukan pemanah Rasulullah SAW saat perang Uhud

Dalam perjalanan singkat tersebut juga terlihat tentang betapa gersang dan panasnya keadaan kota Madinah. Sekilas terbayang tentang perjuangan Rasulullah SAW dan sahabat-sahabat beliau dalam menegakkan agama Islam, di tengah-tengah kondisi masyarakat yang sangat keras, dan kondisi geografis gurun yang penuh batu cadas nan panas. Zaid Bin Abdul Karim dalam kitabnya Fiqh Sirah, membeberkan beberapa keutamaan mempelajari Sejarah Nabi Muhammad (termasuk didalamnya ziarah/napak tilas perjuangan beliau), diantaranya: 1. Mempelajari Sejarah Nabi = Jalan Memahami Al-Qur’an, 2. Usaha mengenal hidup beliau merupakan salah satu prinsip dasar beragama, dan, 3. Dari belajar sirah Nabi kita bisa mengetahui tentang Akidah, Hukum-hukum fikih, Akhlak, dan Dakwah beliau (Zaid bin Abdul Karim. 1436 H. Fiqh as-Sirah. Riyadh: Dar at-Tadmoria). Dalam QS. Al-Ahzab: 21 juga telah disebutkan bahwa dalam diri Nabi Muhammad terdapat Suri Tauladan yang baik untuk kita semua.

Ya, Rasullullah SAW memang tidak memerlukan lantunan sholawat dari kita, tapi kitalah yang sangat memerlukan syafaat dari Rasulullah SAW di hari kiamat kelak. Jika melantunkan shalawat untuk Rasulullah SAW saja tidak pernah, masak iya kita mau mbagusi dan lancang pengen dapat syafaat dari beliau? Ngaca bro…

Allahumma Sholli Ala Muhammad, wa ala alihi wa ashabihi wa sallim ajma’in.

Wuih, pake in note segala. Situ nulis di blog ato buat makalah sih mas vatonie? #keplak

Cukup serius.

Next.

Jpeg

Monumen Perang Uhud, dengan latar depan Ustadz H. Atik Fikri Ilyas Lc., MA😀

Sesampainya di Jabal Uhud, terdapat dinding monumen yang menceritakan kisah singkat perang Uhud, mulai dari arah kedatangan kaum kafiq Quraisy, bukit tempat para pasukan pemanah Rasullullah, tempat pasukan Rasulullah SAW rebutan ghanimah, dst. Lengkap. Tapi…ya itu…pake bahasa Arab L

Suasana panas menyengat itu jelas. Satu hal yang menarik bagi saya: Pedagang Kaki Lima di Jabal Uhud juga pada jualan Batu Akik, dan tau pasti bahwa Jamaah Indonesia adalah konsumen yang gila Batu Akik! Wakakakakakaka. Tau aja mereka, kalau di Indonesia sekarang sedang pada kesengsem Batu Akik (maaf, saya tidak termasuk. Walau tanpa ajian pengasihan Batu Akik pun saya tetap dikasihani oleh orang lain #Eh #GimanaGimana)

Di komplek ziarah Jabal Uhud, juga terdapat makam para 70 Syuhada Uhud, termasuk di dalamnya makam paman Rasulullah SAW: sayyidina Hamzah r.a. yang Syahid di Uhud, yang jenazahnya tetap utuh dan masih mengeluarkan darah, hingga saat ini. Allahu Akbar.

uhud-2

Kompleks pemakaman 70 Syuhada Uhud yang sederhana

Sayyidina Hamzah r.a. dibunuh oleh seorang budak bernama Wahsyi, dengan tombaknya. Kelak, Wahsyi, setelah memeluk agama Islam, adalah orang yang akan membunuh Musailamah Al-Kadzzab, sang nabi palsu (dalam perang Yamamah) dengan tombak yang sama yang telah ia gunakan untuk membunuh sayyidina Hamzah, r.a., dan Wahsyi berdoa agar mudah-mudahan apa yang telah ia lakukan (membunuh Musailamah Al-Kadzzab) bisa menebus dosanya karena telah membunuh sayyidina Hamzah r.a.

Makam para Syuhada Uhud seperti typical komplek pemakaman di Arab Saudi: sangat sederhana, hanya dikelilingi pagar setinggi 1,75 meter, berupa tanah datar, tanpa ada bangunan apapun diatasnya, kecuali 2 buah batu nisan sederhana, yaitu nisan sayyidina Hamzah, r.a. dan nisan sayyidina Abdullah bin Jaz r.a.

Saya tidak sempat naik ke bukit Jabal Rumat, tempat Pasukan Pemanah Rasulullah bertugas, karena hari yang sudah menjelang siang, dan harus mengejar sholat dhuhur berjamaah di Masjid Nabawi.

dsc_0738

Jabal Uhud di kejauhan. Tampak terlihat dinding kompleks Pemakaman Syuhada Uhud

Jabal Uhud (Bukit Uhud) adalah bukit yang sangat istimewa. Berkali-kali Rasulullah menyembut nama bukit Uhud yang gagah menjulang laksana Pintu Gerbang kota Madinah, diantaranya: 1. “Bukit Uhud adalah salah satu dari bukit-bukit yang ada di syurga.” (H.R. Bukhari), 2. “Barang siapa yang mensholati jenazah dan tidak ikut mengantarnya (kekuburannya) maka baginya pahala satu qirath, dan jika mengantarkannya maka baginya pahala dua qirath. Ada yang bertanya :”Apa yang dimaksud dua qirath ?”. Beliau menjawab : “Satu qirath paling sedikitnya sebesar gunung Uhud”. (H.R. Muslim), dan 3. Sesungguhnya Uhud adalah satu gunung/bukit yang mencintai kami dan kami juga mencintainya (H.R. Bukhori-Muslim).

Yah, inilah Jabal Uhud, bukit yang menjadi saksi bisu perjuangan para syuhada untuk memperjuangkan cinta kepada Allah SWT dan panji Islam. Semoga kita yang sempat menziarahi tempat ini bisa mengambil banyak pelajaran dan meneruskan jalan cinta para syuhada Islam. Amiin..

 

Kebun Kurma

Umroh 2015 (499)

Ibunda tercinta di kebun sawit…eh…kurma

Tidak banyak yang bisa saya ceritakan tentang tempat ini, karena memang saya tidak blusukan kemana-mana disini, hanya turun dari bis, lalu masuk ke tempat penjualan kurma, melihat sekilas ke arah kebun kurma, foto-foto bentar, lalu kembali masuk ke bis.

Pohon kurma, bagaimana ya gambarannya? Mirip seperti pohon kelapa sawit, iya, kelapa sawit. Mirip banget.

Tidak hanya kurma yang dijual ditempat ini, tapi juga cokelat arab (nickname-nya itu, entah nama aslinya) yang dijual kiloan, juga beberapa barang khas Arab Saudi lain. Boleh dibilang tempat ini merupakan Pusat Penjualan Oleh-oleh khas Arab Saudi. All in one, semua dijual disini.

Saran: Jangan kalap beli segala macam barang yang menarik, karena setiap tempat pasti ada hal yang menarik pandangan mata. Ya sebenarnya bebas saja sih, duit juga duit situ, tapi kalau sampai bagasi overload, maka selamat menikmati🙂

Other Story of Madinah Al-Munawwarah: Tiang Payung & Kubah Hidrolik

Jpeg

Tiang-tiang di salah satu sisi halaman Masjid Nabawi, payung dalam keadaan tertutup

Di halaman masjid nabawi terdapat tiang-tiang yang menjulang setinggi 21 m. Tiang-tiang tersebut ada 260 buah. Di puncaknya terdapat Payung Hidrolik yang bisa membuka dan menutup, berukuran 25,5 m x 25,5 m. Coba perhatikan, payung ini bentuknya antik, tidak seperti payung umumnya yang menelungkup ke bawah, payung ini menelungkup ke arah atas (lah, kok “menelungkup ke atas” yak, istilah yang tepat: “telentang”😀 ), berfungsi ganda sebagai payung dan penampung air hujan.

Saat payung ini menutup, tiang itu ya bentuknya seperti tiang hiasan biasa. Namun setelah payung terbuka, masya Allah, indahnya. Saya sempat merekam momen-momen terbukanya seluruh payung tiang di halaman Masjid Nabawi. Suara hidroliknya nyaris mirip dengan para transformers yang berubah wujud ^_^.

Jpeg

Tiang-tiang di salah satu sisi halaman Masjid Nabawi dengan posisi payung terbuka

Di tengah tiang terdapat dua buah kipas angin besar, nyaris mirip seperti baling-baling mesin jet pesawat. Pada saat-saat tertentu, dari kipas angin tersebut tersembur air, berbarengan dengan berputarnya kipas, untuk menambah kesejukan udara. Sebegitu pengennya Arab Saudi yang gersang nan tandus memiliki udara yang berhembus sejuk, sampe masang kipas plus semburan air segala, bandingkan dengan Indonesia yang ndak usah dipasangin apa-apa udah sejuk dari sononya. Dan sepertinya, usaha itu lumayan gagal, karena air yang diseburkan dari kipas yang berputar seperti tidak berbekas apa-apa, sekedar jadi tetesan air di lantai pun tidak, langsung menguap tak berbekas, saking panasnya udara disana.

Nanti di Masjidil Haram, kita juga akan menjumpai kipas yang sama, dengan semburan air yang sama, tapi dengan jumlah yang jauh lebih banyak dari yang ada di Masjid Nabawi.

Di tengah-tengah Masjid Nabawi (sebelum masuk ke ring 1 masjid Nabawi – ini istilah saya, untuk area depan/utama Masjid Nabawi sebelum diperluas oleh Raja Fahd) terdapat 12 payung raksasa seperti yang terdapat di halaman Masjid Nabawi.

Di dalam Masjid Nabawi juga terdapat 27 kubah hidrolik, berukuran 18 m x 18 m, yang bisa membuka dan menutup, sebagai salah satu sarana ventilasi dan pengaturan udara. Saya sempat melihat ketika kubah ini membuka di pagi hari, sempat kaget, karena suaranya juga transformers banget, nyaris mirip seperti saat Tiang Payung yang terbuka. Sayangnya, saat itu saya sedang ngaji, jadi tidak sempat merekam satu-satunya kejadian terbukanya kubah selama saya di Madinah. Sampai beberapa hari setelahnya, saya nunggu momen kubah terbuka di pagi hari (sekitar jam setengah 6 pagi ya), tapi ndak dapet-dapet lagi :(  #menyesal

 

Other Story of Madinah Al-Munawwarah: Para Askar

5564dff00423bd8d098b4567

Para Askar sedang bersantai

“Yaa Hajj! Ya Hajjah!”

“Thoreq Thoreq! (jalan)”

“Qum Ya Hajj, Qum Ya Hajjah! (Ayo Berdiri! (ini bukan tempat sholat!))”

“La Sholata Huna! (Jangan sholat disini), Full!”

“Ibu..ibu…ini jalan!”

“Khuruj (keluar)!”

“Mundur!” “Maju!”

“Maafii!” (Tidak ada)

“Ruh!” (keluar)

“Yaa Hajj, Yaa Hajjah! Please!”

“Laa! Laa! (tidak), Haram haram! Bid’ah!”

*bonus suara gebukan rotan, khusus utk jamaah ibu-ibu*

Ingat kalimat-kalimat diatas? Yak, inilah kalimat khas para Askar Masjid Nabawi/Masjidil Haram (Askar = Tentara/Pengawal/Petugas Keamanan, bertugas untuk menjaga ketertiban para jamaah Haji/Umroh).

Umroh 2015 (531)

Beberapa Askar yang menjaga area Roudhoh

Askar laki-laki ada yang menggunakan seragam hijau layaknya tentara Arab Saudi, ada juga yang menggunakan jubah putih + rompi abu2, sedangkan askar wanita memakai baju jubah hitam lebar + cadar hitam + kaos tangan hitam + tag pengenal di bagian dada.

Para jamaah Umroh pasti sangat hafal dengan suara para askar keras dan tegas, sedangkan untuk Askar wanita suaranya membentak melengking tinggi. Saya laki-laki, tapi kebetulan tau kl Askar Wanita itu bawa rotan karena saya pernah nyasar di Masjidil Haram ke bagian tempat sholat ibu-ibu, dalam rangka mlipir mencari jalan menuju shaf terdepan karena agak telat berangkat sholat, dan sempat jadi obyek teriakan Askar tadi: “Ya Hajj! Huna Mar’ah!” (Oi mas, di sini tempat sholat perempuan, situ salah jalan) *gebukrotan*” #malu

Para Askar juga bertugas menjaga ketertiban dan kebersihan Masjid dari tingkah para Jamaah yang naudzubillah ngeyelnya. Untuk jamaah laki-laki, Askar laki-laki tidak terlalu ketat, mereka pake metode custler random sampling: hanya memeriksa jamaah yang akan masuk masjid sambil bawa tas/kantong gede, pasti tidak selamat ituh. Tapi kl Askar Wanita sangat strict: semua tas tentengan segala macam diperiksa, ketahuan bawa botol gede/makanan pasti tidak selamat. Perlakuan ini merupakan hal umum di Masjid Nabawi, karena kalau di Masjidil Haram, Para Askar lebih toleran.

Umroh 2015 (379)

Dua orang Askar sedang berjaga di salah satu pintu masuk Masjid Nabawi, sambil menghafal Al-Qur’an, sambil mengawasi jamaah yang keluar masuk masjid

Demikian juga saat sholat, jangan samakan Masjid Nabawi/Masjidil Haram seperti di Indonesia: sholat Ashar jam 3 sore, berangkat jam 3 sore, ya selesai. Jika misal Sholat Ashar jam 3 sore, ya berangkat paling telat minimal jam 2 sore, lebih dari jam itu maka masjid akan penuh, dan beberapa akses jalan menuju bagian dalam masjid akan ditutup. Saat inilah Askar juga menjalankan perannya: Mengusir jamaah yang ngeyel dan ngotot pengen masuk masjid dan bersikeras menuju shaf depan, walaupun masjid sudah full.

Teriakan khas Para Askar “thoreeeqqqqq!” untuk para jamaah yang nekat nggelar shof baru di tengah jalan akan menggema. Sedangkan di bagian jamaah ibu-ibu, teriakan melengking dari Askar Wanita: “Ijlis Ya Hajjah! Ayo duduk! Penuh!” plus bonus rotan langsung terdengar.

Sepertinya, Para Askar, baik laki-laki atau wanita, tidak terlalu keras jika berhadapan dengan jamaah dari Indonesia, mungkin karena Jamaah Indonesia itu pada nurut-nurut: Disuruh pergi ya pergi, disuruh berdiri ya berdiri, pokoknya pasrah. Lain hal jika mereka berhadapan dengan jamaah (mis) dari India, Pakistan, semenanjung Arabia, Afrika, dkk yang ngueyelnya naudzubillah, udah ditereakin juga tetap masa bodo. Apalagi yang jamaah ibu-ibunya, ampuuunnn, udah jelas-jelas masjid penuh, cuek aja mereka ndusel masuk terus duduk manis di tengah-tengah shof yang sudah tersusun rapi. Atau, tiba-tiba, sambil bawa kursi, dengan damai ngeletakin kursinya di depan jamaah lain (ini kisah dari ibu saya). Lah lah, karepmu piye?

Satu hal yang saya salut dari para Askar (terutama yang memakai Gamis + Rompi): mereka menjalankan tugas itu sambil menghafalkan Al-Qur’an. Subhanallah, luar biasa, sambil hafalan al-qur’an, lirik kiri-kanan, terus tiba-tiba tereak: “Ya Hajj! Haraaammm!” #TepukJidatTetangga

Para Askar ini juga tidak mau difoto. Jika ada yang ketahuan mengambil foto mereka, sang empunya kamera akan dikejar, kamera dirampas, kemudian foto tadi akan dihapus. Silahkan dicoba, semoga berhasil🙂

Umroh 2015 (565)

Saat beberapa area sudah ditutup, dan jamaah sekian banyak mulai kebingungan seperti ini, berusaha mencari jalan sendiri-sendiri supaya bisa masuk ke area yang sudah full, maka peran Askar mengatur jamaah menjadi sangat penting

Jumlah Para Askar paling banyak berada di area Roudhoh dan Makam Rasulullah SAW, puluhan jumlahnya. Mereka tidak segan-segan sampai turun tangan mendorong, menepis, bahkan menarik paksa jamaah yang sekiranya berdoa meratap di depan makam Rasulullah SAW atau melakukan tingkah mencurigakan di area Roudhoh (mencium tembok, mengusap-usap tiang, berlebihan saat melihat Mimbar Rasulullah SAW, atau sholat sembarangan). Mereka tidak peduli, walau sedang sholat sekalipun, kalau sekiranya agak berbau-bau musyrik (mis: sholat menghadap makam nabi membelakangi kiblat), pasti dibubarin itu sholatnya.

Kalau saya pribadi, peran para Askar sangat vital. Ketegasan mereka beralasan: demi kelancaran proses beribadah sekian banyak jamaah, tidak hanya satu dua orang saja. Dar’ul mafasid muqaddam ala jalbil mashalih: daripada ntar makin banyak yang ikutan sholat/doa merapat menghadap makam nabi, daripada ada jamaah yang sholat di jalan malah jadi menghalangi jalan dan bisa berakibat fatal terhadap keselamatan si jamaah, mending dibubarin saja.

Khusus Askar Wanita: Daripada capek debat sama ibu-ibu (tau sendiri kan, tingkah ibu-ibu kayak apa kalau sedang ngeyel), daripada capek ngurusin ibu-ibu yang pura-pura tau, mending langsung saja gebuk pake rotan: cetar! Selesai.

 

Other Story of Madinah Al-Munawwarah: Majelis-majelis Ilmu di Masjid Nabawi

dsc_0777-1

Salah satu Majelis Ilmu di Masjid Nabawi, ba’da Maghrib

Kita mulai dengan sebuah hadist Rasulullah SAW: “‘Jika kalian melewati taman surga maka berhentilah.’ Mereka bertanya, ‘Apakah taman surga itu?’ Beliau menjawab, ‘Halaqah dzikir (majelis ilmu).’” (HR At-Tirmidzi).

Hadist lain: “Barang siapa mendatangi masjidku ini, tidak datang kecuali untuk kebaikan yang ingin dia pelajari atau dia ajarkan, maka kedudukannya seperti mujahid di jalan Allah. Dan barang siapa datang untuk selain itu, maka ia laksana orang yang hanya memandang barang orang lain.” (HR. Ibnu Majah).

Jika kita mau memperhatikan, di seantero penjuru Masjid Nabawi, terutama ba’da Shubuh, ba’da Ashar dan ba’da Maghrib, banyak berkumpul sekelompok orang, duduk khusyuk menyimak tausiyah/kuliah dari seorang bersorban yang duduk di atas kursi, sedang ceramah menggunakan pengeras suara. Atau bisa juga, berkumpul sekelompok anak-anak kecil, berhadapan dengan seorang ulama, semua membuka Al-Qur’an, sedang setoran hafalan Al-Qur’an, demi menjadi seorang hafidz.

menghafal-al-quran

Salah satu suasana Majelis Hafalan Al-Qur’an anak-anak di Masjid Nabawi

Hebat ya mereka, masih anak kecil tapi sudah lancar berbahasa Arab, kita yang belajar Bahasa Arab dari dulu sampe sekarang tetap aja Bahasa Arabnya ndladrah ra jelas. #HakDuesh . Dan Ulama yang menjadi pembimbing anak-anak kecil hafalan Al-Qur’an tadi itu sangat tegas, menjurus galak. Hanya salah sedikit grammar…eh…nahwu shorof tajwidnya, langsung dibentak dan disuruh ngulang.

Ulama-ulama yang mengisi Majelis Ilmu tersebut merupakan ulama-ulama sekitar Mekkah, Madinah, Dosen-dosen di Universitas Ummul Quro’ Madinah, ataupun para Mahasiswa S2-S3 di universitas tersebut. Ceramah tidak melulu menggunakan bahasa Arab, ada yang memakai bahasa Inggris, ada juga yang memakai Bahasa Indonesia. Saya sendiri sempat mengikuti Majelis Ilmu seorang ulama yang menggunakan Bahasa Indonesia, tidak sengaja ketemu, itupun karena nyasar pencilakan jalan-jalan memutari Masjid Nabawi, jadi lupa dimana tempat tepatnya majelis Ilmu tersebut, dan juga tidak tau siapa nama ulama tersebut #LangsungPushUp

Ya, ternyata di Masjid Nabawi juga terdapat taman surga lain selain Roudhoh, yaitu duduk tekun mendengarkan tausiyah dari para Ulama yang ceramah di seantero masjid. Ini lebih mudah daripada masuk Roudhoh yang harus berdesak-desakan, cukup duduk manis khusyuk menyimak. Yang berat cuma satu: nahan ngantuk karena ndengerin para ulama tadi ceramah di Masjid Nabawi yang nyaman dan sejuk😀

 

Other Story of Madinah Al-Munawwarah: Jamaah Haji & Umroh Indonesia

Ribuan jamaah tumplek blek jadi satu di Masjid Nabawi (juga Masjidil Haram), dan sepertinya, jamaah dari Indonesia termasuk banyak. Sudah jamak kita temui di Indonesia orang yang sudah melaksanakan Haji sampe berkali-berkali, itupun masih kurang: dah masuk antrian haji musim kesekian, masih sempat Umroh juga tiap tahun. Berbeda hal dengan, misal: Arab Saudi atau Malaysia yang membatasi warganya hanya boleh melaksanakan ibadah Haji maksimal 2 kali (Sunnah Fi’liyah).

Note: Sepertinya sekarang Indonesia mulai meniru negara-negara tetangga: membatasi jumlah berangkat Haji untuk tiap orang, untuk tahun ini (dan seterusnya) keberangkatan Haji diutamakan bagi mereka yang belum pernah berangkat.

Umroh 2015 (436)

Jangan tanya, kalau yang difoto ini semua Jamaah Indonesia, dari Travel Al-Habsyi, yang sedang setia nunggu kedatangan bis😀

Bagaimana cara mengenali mana Jamaah Haji/Umroh dari Indonesia? Gampang. Untuk Jamaah laki-laki: 1. Pake peci hitam, dan/atau, 2. Pake sarung, dan/atau 3. Pake baju koko. Untuk Jamaah perempuan: Datangin saja pedagang di sekitar sana, pasti ada tu ibu-ibu dari Indonesia sedang belanja.

Khusus untuk para perokok: jangan harap ada yang jual rokok di Madinah (juga di Mekkah). Ada sih, tapi hanya toko-toko tertentu, itupun jualnya sembunyi-sembunyi. Saya baru tau bahwa menjual rokok kepada Warga Negara Asing adalah terlarang di Arab Saudi. Pantes pada disembunyiin. Cara paling mudah: pesan dengan petugas katering hotel, pasti ada, dan harganya 15 riyal, flat untuk semua merek. Hiks, Mahal😦 . Mending bawa bekal sendiri saja dari Indonesia, atau tidak usah merokok sekalian🙂

Warga asli Arab Saudi ndak ada yang suka duduk-duduk di pinggir jalan (ada hadistnya ituh: Rasullullah melarang duduk-duduk nongkrong di pinggir jalan). Jadi, jika kita melihat ada jamaah yang duduk di emperan/selasar/trotoar/pinggiran hotel, apalagi sedang merokok sambil bawa kopi, pastikan itu orang Indonesia….termasuk saya, hahahahaha.

Selain penyakit shoppaholic para Jamaah Indonesia, ada satu lagi kebiasaan Jamaah Indonesia yang standar: Ngumpulin air zam-zam di dalam botol untuk dibawa pulang ke tanah air. Ya, baguslah, semoga berhasil, terutama untuk jamaah ibu-ibu, botol gede ato galon yang rencananya mau diisiin air zam-zam tadi tidak kena razia Askar Perempuan yang galaknya naudzubillah, dan kalaupun berhasil, Air Zam-zamnya lolos dari razia di Imigrasi Bandara Jeddah.

wayangSaya sempat ngobrol-ngobrol dengan orang asli sana, juga dengan beberapa petugas hotel, (jiah, ngobrol, ngrumpi, Indonesia banget inih), semuanya punya satu kesan yang sama terhadap orang Indonesia: Ramah, Sopan, dan Santun! Beberapa pujian terlontar: “Indonesia Thoyib, Mumtaz, Indonesia Jempol, Khoir jiddan ya Syeikh.” Mereka terkesan dengan tingkah jamaah Indonesia yang mereka anggap sopan dan ramah (ya iyalah, kalau dibandingin dengan warga negara lain mah kita termasuk ramah dan sopan, suka senyum-senyum sendiri walau tidak gila, padahal aslinya ya ngawur dan kasar juga😀 ), dan mereka berkeinginan agar suatu saat bisa pergi main ke Indonesia, melihat sendiri alam Indonesia dengan segala keramahan dan kesopanan para penduduknya.

Oke, sip, saya bangga jadi Warga Negara Indonesia, dan meminjam kalimat VJ. Daniel: D*mn, I Love Indonesia! ^_^

Tempat Ziarah Di Madinah Yang Belum Sempat Disinggahi:

  1. Masjid Qiblatain
  2. Masjid Sab’ah
  3. Jabal Magnet

Tolong kepada Travel Al-Habsyi, bisa dipertimbangkan timing yang pas, supaya perjalanan umroh yang akan datang bisa mengunjungi beberapa tempat diatas. Terimakasih🙂

Di tulisan part 4 nanti, background akan berganti tempat: Mekkah Al-Mukarromah, berawal dari Miqat Umroh di Masjid Bir Ali dst, dengan segala kisah yang ada di dalamnya.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 10 Juni 2015 in Uncategorized

 

One response to “Pengalaman Umroh Part 3: Roudhoh, Masjid Quba, Jabal Uhud, Kebun Kurma, dan Other Story of Madinah Al-Munawwarah

  1. dina mandasari limbong

    14 Februari 2016 at 11:48 am

    Adoh ketepatan sy jg br plg umroh,,kok lucu amat sih admin nya,,gemes bgt deh,,smw tulisannya sesuai bgt kenyataannya

    Suka

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: