RSS

Jer Basuki Mawa Bea….

02 Mar

Ada yang pernah mendengar istilah diatas?

Istilah tersebut berasal dari daerah Jawa, tepatnya daerah Jawa Timur yang secara sederhana berarti “Segala sesuatu membutuhkan biaya“. Paham maksudnya?

Sebenarnya istilah tersebut sangatlah baik. Kita sebagai manusia dituntut sadar bahwa untuk hidup butuh pengorbanan, sehingga kata “bea” (biaya) tidak hanya mengacu pada uang atau materi saja melainkan lebih kepada cost. Ada psychological cost, financial cost, social cost dan cost-cost lain yang bermakna pengorbanan.

Ketika kita ingin makan –> makanan –> cost.

Bayi –> Ibu menyusui/membelikan susu instant –> cost

Balita –> bertahan hidup –> cost.

SD SMP SMA Kuliah –> cost

Bekerja –> bekerja keras tak kenal lelah  –> cost

Setelah sukses –> kehilangan waktu bersama keluarga dan sahabat, ada yang iri, badan capek pegal-pegal, stres berat –> cost

Dan lain sebagainya

Ketika istilah Jer Basuki Mawa Bea dikaitkan dengan beberapa hal diatas -dengan segala maknanya- maka sudah tepat dan dalam proporsinya. Akan tetapi jika kemudian ini diartikan mentah-mentah secara letterleijk ketika ada kaitannya dengan birokrasi pemerintahan, maka itu sudah salah kaprah. Amat disayangkan ketika istilah sebagus itu kemudian disalah artikan dengan makna lain.

dan itulah yang terjadi di Indonesia saat ini, tidak perlu kita pungkiri…

Ketika seseorang berhadapan dengan birokrasi pemerintahan, maka istilah tersebut dijadikan justifikasi untuk “membayar uang pelicin” yang sangat-sangat tidak perlu dengan dalih “supaya cepat“. Ketika ada anak atau saudara yang ikut mendaftar lowongan pekerjaan pemerintahan dan kebetulan tidak diterima, maka istilah tersebut pun dijadikan pembenar untuk mempertahankan ego payah yang tidak terima kalo kalah membela diri “Ya maklum ndak terima, kan saya murni jujur-jujuran“. Kalo berurusan dengan aparat peradilan maka seluruh sanak saudara handai taulan dan kenalan akan memberikan nasehat menyesatkan tentang upeti/biaya kiri kanan kepada pegawai, panitera, jurusita ato bahkan hakim dengan justifikasi istilah yang sama.

Bingung…Sebenarnya apa sih yang salah…istilahnya, orangnya, atau otaknya????

Lalu, kenapa saya menulis ini?

Karena beberapa hari yang lalu, saya hampir 1 jam melayani dengan sangat sopan, setulus hati dan dengan mengerahkan secara maksimal kemampuan berdiplomatis saya, ketika berhadapan dengan seorang bapak-bapak yang (nampaknya) kaya yang amat sangat memaksa dengan segala macam cara daya dan upaya  agar urusan perkaranya dipermudah dan dipercepat yang secepat mungkin ingin saya usir keluar kemudian menendangnya ke Tahuna.

Jer Basuki Mawa Bea mas, saya juga paham kok, nanti kita tahu sama tahulah” itu kata beliau dengan amat sangat bijaksana. Duh, jawa bangeetttttt……Adu ketahanan kesopanan dan diplomatis tersebut berakhir ketika dia (dengan paksa) menyodorkan dan menyelipkan sebuah amplop yang (keliatannya) tebal dengan diiringi dengan serangkai kata manis “Tolong saya dibantu ya mas…siyal, dikiranya semuanya bisa dibeli apa…beli beli beli, mau mau mau?

Saya tersenyum, berusaha tenang, memandang mata beliau, kemudian dengan hati-hati berkata: “Pak, saya akan menolong bapak, tapi bisakah bapak menolong saya?“. Dengan mata berbinar bapak tersebut menjawab: “Jelas mas!!! Apa yang bisa saya bantu?“. Masih dengan senyum saya menjawab: “Gampang kok pak, tolong amplop yang tadi bapak ambil kembali, lalu masukkan ke tas bapak, maka akan saya tolong bapak sebisa dan semampu saya sesuai dengan kewenangan dan proporsi saya. gimana?

Beliau terdiam…..dan saya merasa sangat bersyukur kepada-Nya karena telah bisa menolak dan berkata tidak. Saya mungkin tidak bisa berbuat yang lebih, dan mungkin hanya itulah hal terbaik yang bisa saya lakukan sebagai salah seorang makhluk ciptaan-Nya yang secara kebetulan menjadi warga peradilan. Saya jadi bertanya-tanya tentang metodologi penelitian (termasuk integritas penelitinya) yang hasilnya menyebutkan bahwa  korupsi di peradilan itu 100% merupakan inisiatif dari Pegawai peradilan….

Dan mungkin hanya itu pulalah yang bisa saya lakukan untuk membuka mata -setidaknya terhadap bapak tersebut- bahwa Jer Basuki Mawa Bea bukanlah seperti itu, karena kadang-kadang istilah yang paling tepat untuk kita adalah “..Jer Basuki Mawa Becik..” Ato mungkin “..Jer Basuki Mawa Bejo..”😀

Gimana teman???

*Padahal potongan gaji dah banyak ni, hik hik hik, halahhhhh*

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 2 Maret 2009 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: