RSS

Suatu malam di warung kopi tugu…

16 Feb

HP ku tiba-tiba berbunyi, kulihat ada SMS masuk, kubaca:

Men, ke Yogya ndak???

….oh, teman lama…. Kubalas:

Iya, ada acara apa emang? Kok tumben-tumbennya?

Ingat warung kopi tugu? Kesini ya, aku sendirian nih :D”

Okeh, Siaph……

dan 15 menit kemudian aku telah sampai dan berhadapan kembali dengan sebuah tempat legendaris yogya, tempat berkumpulnya ingatan dan kenangan jutaan anak manusia, tempat banyak orang besar Indonesia pernah bercengkrama….

Lama aku terdiam di atas motorku, sejenak terlintas semua hal ketika aku masih sering ke sini ketika tiba-tiba sebuah suara nyaring berteriak: “Hoeehhh, sebelah sini!!!!”. Kupalingkan wajah dan kulihat temanku sedang melambaikan tangan diatas tikar yang…..masih seperti dulu….

Setelah memesan kopi, dengan tersenyum kudatangi dia, tawa sumringah menghiasi wajah kami yang lama tidak bertemu, saling bertanya kabar dan bersenda gurau, saling ejek mengejek, dan saling bercerita tentang kegiatan sehari-hari.

Waktu berlalu ketika sampai di suatu ketika dia berkata: “Men, Ingat ndak dulu waktu kita masih semester awal kuliah, pokoknya segala macam kegiatan kampus dan bisnis apapun dilakuin dengan senang hati, ndak mikir dapat penghasilan ato income apa ndak, pokoknya senang. Niatnya cuma cari pengalaman, cari teman, ngisi waktu, ya kayak gitulah. Ngeband: jelas, Pemilwa: ikut, Buat film: pasti, Nyablon: Tiap hari, Dagang: Jangan Tanya, EO: Jadi Kru….” katanya nyerocos ndak karuan.

“Lha sekarang dah injury time, semester akhir je, kuliah ndak jelas, bisnis ndak jelas, EO ndak jelas, ngeband ndak jelas, computer ndak jelas, buat film ndak jelas, semua ilmu yang dikumpulin dengan susah payah rasanya kok Cuma setengah-setengah ya, ngambang gitu” lalu dia menyeruput kopinya yang udah tinggal ampasnya.

“Kalo kuliah lulus trus pulang kayaknya malu hati sama ortu n tetangga, tapi kalo bertahan disini mau ngapain, sekarang aja teman-teman udah pada ngilang semua, dah pada pulang kampung ato hijrah cari nafkah ke kota lain. Lha aku??? Hari ini aja dari tadi siang aku sendirian nglangut ndak jelas mau ngapain, untung ndak sengaja ketemu kamu tadi, jadi ada teman buat ngopi…” Curhatnya tanpa henti.

“Oya, komputerku kemarin sekolah, proposal pemutaran filmku ditolak, trus salah satu partai kampus ngajak kampanye lagi….” Matanya semakin nanar sambil mempermainkan arang kopi dalam gelas.

Aku cuma termenung, belum bisa menanggapi apapun, aku menikmati semua omongan yang ia lontarkan sambil bernostalgia tenang masa kuliah ku, tentang semua yang pernah aku jalani dulu, tentang indahnya yogya, tentang kesusahan dan kemelaratan yang pernah aku alami, tentang kebulat tekadku untuk keluar dari zona nyaman masa muda…..Yah, itung-itung sambil menyelam buang air lah……

“Opo meneh mikir masalah nikah, aaarrrgghhhhh, puyeng nda, kamu sih enak dah kawin, dah punya anak, dah misah dari orang tua, dah punya jalan hidup sendiri, lha aku???”

Aku nelangsa mendengar omongannya barusan. Bahwa betapa dia tidak tahu tentang beratnya aku meninggalkan yogya, bahwa betapa aku merindukan suasana yogya, betapa tiap malam aku kangen masa lalu: Ngopi, diskusi, memaki dosen yang ndak masuk ngajar, menggoda adik angkatan, bercanda dan tertawa, bernyanyi sambil gitaran, bingung mikir makalah n skripsi yg belum selesai…..

Tapi…..

Dia masih terdiam sambil menghisap rokok dengan mata menerawang, entah memikirkan apa.

“Fren, masa-masa itu indah ya…..”

Dia melirik, kemudian menjawab dengan suara datar: “Iya”

“Fren, teman-teman kita dah hilang dari yogya ya, aku emang dah jarang datang ke warung kopi ini, tapi kok kayaknya orang segini banyak aku ndak ada yang kenal blas, kok rasanya sepi…”

Dia masih terdiam, melihat ke sekitar dan seakan baru sadar dengan ucapanku barusan

“Fren, kayaknya emang masa kita udah lewat, Tuhan dah sangat berbaik hati sama kita kita bisa mengalami itu semua….tapi….c’mon fren, itu dah lewat, dah tinggal kenangan, bagiku yogya sekarang adalah tempat untuk bernostalgia, sudah bukan saatnya lagi kita merindukan romantisme masa lalu. Hidup kita masih panjang fren, kita baru 25 tahun…”

“Maksudmu???” jawabnya.

“Konkrit aja, selesaikan kuliahmu, pulang ke kampong halaman, ato mulailah untuk menekuni sesuatu secara professional, yah, buat pemasukan dompet lah, syukur-syukur bisa buat menghidupi anak istri kelak”

“Men, mana idealisme mu men???” sambil mengernyitkan dahi dia bertanya.

“Gini, idealisme ku pernah ada, masih ada, dan akan terus ada. Namun bukan semata idealisme romantis masa muda, akan tetapi idealisme yang akan aku terapkan di bidangku saat ini. Bukan berarti kalo kita professional terus idealisme itu hilang kan???”

Dia terdiam

“Aku paham, memang berat meninggalkan yogya dengan segala kenangannya, tapi kita harus maju, jangan jadikan idealisme sebagai alasan untuk stagnan. Kita bukan pohon pisang fren, hidup cuma sebentar berbuah sekali trus mati. Aku yakin kok segala yang kita alami dulu membuat kita bagaikan pohon cokelat, yang begitu susah dan ringkih dalam memperjuangkan kehidupan tetapi terus berguna dan bermanfaat dalam jangka waktu yang amat panjang”

Tiba-tiba dia nyengir, sambil memegang gelas dia berkata: “Aku minimal pengen jadi kopi men…..ya….kopi…..dipetik, dijemur, ditumbuk, dihaluskan, digangsar, dan hasilnya memberikan aroma yang harum bagi yang ada didekatnya. Yang jelas, biasanya bau bangkai kalah sama bau kopi kan???” katanya sambil tersenyum.

Amin fren, semoga engkau bisa menjadi kopi.

Amin…..

malam pun terlihat cerah di warung kopi tugu yogya

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 16 Februari 2009 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: