RSS

Renungan malam tahun baru 2009 M

01 Jan

Posting ini adalah poting pertama saya di tahun 2009 M

Saya bingung harus menuliskan apa…

Hanya saya teringat tadi malam, yang katanya adalah malam tahun baru, dimana (ndak) semua orang keluar rumah, memadati jalan dan pusat-pusat keramaian serta pariwisata, berkumpul, menghitung detik-detik pergantian tahun, meniup terompet sekeras-kerasnya, merayakan pergantian tahun dengan riang-gembira (saya yakin kebanyakan mereka tidak tahu bahwa tahun ini -secara astronomi- bertambah 1 detik, jadi jam 00.00 tadi malam kecepatan 1 detik teman).

Saya sempat merasakan atmosfer keramaian tersebut, ketika tadi malam saya sempatkan mampir ke Ambarukmo Plaza untuk mencarikan barang pesanan ibu saya. Ampun, sepanjang jalan –setidaknya jalan Solo yang saya lewati- penuh sesak dengan manusia. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana ramainya Malioboro dan Pantai Parangtritis saat itu.

Saya baru sadari bahwa ternyata saya yang sekarang beda dengan dulu: tidak merasa nyaman berada di keramaian. Entah kenapa, kepala kok berputar-putar ndak karuan melihat betapa corwded-nya suasana waktu itu (padahal baru jam 21.00). Akhirnya saya putuskan untuk pulang dan istirahat di rumah.

Saya bingung, sebenarnya apa sih yang dirayakan?

Sepertinya, mereka yang paling berbahagia dengan pergantian tahun adalah para paranormal yang tiba-tiba jadi narasumber penting ramalan kejadian tahun 2009 (Jeng siapa, Mama anu, Ki entah, Kyai fulan, Mas kui, Raden sopo) dan artis yang dapat order manggung malam itu…

Kalo dalam pikiran saya, kalau tahun baru, berarti usia bertambah, berarti dosa dan kesalahan yang kita lakukan akan bertambah juga, masak mau dirayakan…

Belum lagi kalo niatnya bersenang-senang merayakan tahun baru sambil dugem di niteclub elit, eh, malah kena musibah, kebakaran dan mati ditempat, kan rugi banget tu…

Yang saya tahu, umat Islam itu tahun barunya “1 Muharram 1430” kemarin, kalo orang cina itu tahun barunya di Indonesia dikenal dengan “1 Imlek” (dah tahun 2560), kalo yahudi tahun barunya “Rosh Hashanah” (dah tahun 5769), lha tahun “Masehi” (sekarang dah sampe 2009) tu sebenarnya tahun baru siapa sih? Jadi bingung juga….CMIIW

Terus, bagaimana sih kita harus menyikapi malam tahun baru sebenarnya? Di tengah kegalauan, saya menemui beberapa artikel disini dan disini yang bisa dijadikan bahan pertimbangan renungan.

Saya pun berkontemplasi, kembali mengingat bahwa beberapa saat setelah saya ada di Amplaz, sebuah SMS sampai ke HP saya dari seorang teman, yang isinya saya beri gelar sebagai SMS terbaik tahun 2008 M yang pernah saya terima dari teman, sebuah penutup tahun yang sangat bermakna, begini isinya:

“Disaat orang berhura-hura malam ini di luar sana, pastikan dirimu diatas sajadah larut dalam doa untuk syuhada Palestina, ALLAHU AKBAR!!!”
(terimakasih mas Khairil SMS nya…)

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 1 Januari 2009 in Uncategorized

 

One response to “Renungan malam tahun baru 2009 M

  1. benkyongeblog

    3 Januari 2009 at 5:41 am

    hrs positif aja lah.. mungkin perayaan tu mrpkn suatu cara menghilangkan kejenuhan dr bejibun na mslh yg ada di pundak… rehat sejenak dgn merayakan thn br jg salah satu terapi kan bagi mereka yg jenuh… walau ga semua org berpikiran sama krna bnyk cara msg2 tuk hilangkan kejenuhan… jd jgn di cela jgn di protes.. ambil positif na aja.. *manusia berbeda satu dgn laen na termasuk permslhan yg ditanggung na jg beda2*

    Betul juga ya, kayaknya memang body saya yang memang udah ndak kuat begadang, he he he
    Terima kasih dah mampir…

    Suka

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: