RSS

Denias = 20 % Anggaran Pendidikan

31 Des

 

Kukabarkan berita kepada kawan, nun jauh di mato… 

Kawan, aku teringat akan Denias…

Ketika tadi pagi aku melihat berita di televisi, berita tentang ambruknya sebuah gedung sekolah dasar di negara tercinta ini.

Ya, itulah wajah dunia pendidikan kita, selalu dihiasi dengan ironisme dibalik gencarnya program pemerintah dalam memperhatikan dunia pendidikan. Banyak program dicanangkan dan digelontorkan demi memperbaiki kualitas dan kuantitas input dan output anak didik kita, generasi penerus bangsa ini.

Kawan, masih ingatkah ketika kita duduk ngopi bersama meresensi dan mendiskusikan sebuah film (Denias) dahulu, maktu kita masih sama-sama duduk di bangku kuliah. Kini terbersit keinginan, aku ingin menulis kembali, diskusi omong kosong kita dahulu di tengah-tengah kesibukanku kini beraktifitas.

Seperti yang kubilang tadi, masih banyak gedung-gedung sekolah tidak layak pakai di negeri ini, bahkan sebagian besarnya adalah gedung sekolah pada tingkat sekolah dasar. Padahal kita tahu betapa urgen-nya jenjang pendidikan dasar ini sebagai landasan yang paling mendasar dalam sebuah pembinaan peserta didik untuk menuju ke jenjang yang lebih tinggi.

Aku jadi teringat dengan “film Denias”, sebuah film bertemakan pendidikan. Sangat bagus, dan patut ditonton oleh semua insan di Indonesia. Memang film ini tak seheboh Film “Laskar Pelangi”, namun lebih dulu diproduksi. Film ini juga diangkat dari kisah nyata yang yang terjadi di ujung timur wilayah Nusantara ini.

Film “Denias” mengisahkan perjalanan seorang anak keturunan salah satu suku pedalaman di daratan Papua. Sekolah SD tempatnya menuntut ilmu, satu-satunya yang ada di sana, hancur oleh gempa bumi. Gurunya, yang hanya 1 (satu) orang dipulangkan ke Jawa, akhirnya sekolah itu dibimbing oleh seorang tentara yang sedang bertugas di sana. Di antara murid-murid di sana, ada seorang yang bernama Denias, murid ini sangat cerdas, memiliki semangat yang tinggi, dan berkemauan keras untuk maju dan belajar. Karena kegigihannya itulah ia berjalan menyusuri lembah dan pegunungan untuk pergi ke kota, untuk bersekolah di kota.

Setibanya Denias di Kota, ia justru ditolak mentah-mentah oleh kepala sekolah dan dewan guru yang ada di sana. Denias tidak putus asa, dia bersama seorang guru yang bersimpati kepadanya, akhirnya berupaya dengan berbagai macam cara untuk bisa bersekolah. Hingga pada akhirnya Tuhan berkehendak, bahwa Denias dapat menimba ilmu di sekolah itu. Sungguh perjuangan yang mengharukan sekaligus menampar dunia pendidikan kita.

Ada banyak instrumen pendukung keberhasilan sebuah pendidikan, selain kurikukulum, motivasi orang tua dan dukungan masyarakat, perhatian dan regulasi dari pemegang otoritas adalah menjadi prasyarat yang tak terpisahkan. Pemerintah dalam hal ini, berperan sangat penting dalam mengarahkan masa depan dunia pendidikan bagi bangsa ini. Aku sangat bahagia kawan, ketika mendengar anggaran pendidikan pada tahun 2009 akan direalisasikan 20 persen, namun jika hal itu tidak diimbangi dengan perbaikan sistem birokrasi dan profesionalitas para pihak yang terlibat di dalamnya, maka anggaran itu hanya akan menjadi “boomerang” mengerikan bagi masa depan dunia pendidikan ini. Komitmen dan itikad baik untuk merubah paradigma pendidikan benar-benar dipertaruhkan disini.

Kiranya “film Denias” ini menjadi contoh kecil di mana prasyarat-prasyarat tersebut di atas tidak imbangi dengan semangat yang menggelora dari generasi muda kita. Seorang Denias tidak bisa bersekolah karena ia bukan anak kepala suku di pedalaman Papua, lantas apa sebenarnya tujuan pendidikan di negeri ini, salahkah Denias yang tidak lahir di kota??? Apakah memang anak-anak kita tidak boleh menjadi pintar, supaya mereka tidak bisa protes dan berargumen tentang apa yang terjadi di negeri ini, tentang apa yang bapak-bapak mereka lakukan selama ini?

Kawan, mudah-mudahan apa yang terjadi dengan Denias menjadi bahan renungan bagi kita semua, khususnya bagi diriku sendiri. Terus terang saja aku sudah tidak bisa lagi bersama-sama kalian meneriakkan hal ini dengan lantang diluar sana. Hanya tulisan ini yang mampu aku buat.

Sebab aku yakin akan sesuatu, bahwa:

bukankah kekuatan tinta mampu mengalahkan kekuatan satu kompi batalyon kavalery?

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 31 Desember 2008 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: