RSS

Dan Malam pun Semakin Larut…

26 Des

Malam semakin larut.

Aku dan temanku masih menikmati malam, ditemani kopi yang tinggal setengah cangkir dan sebungkus rokok. Sayup-sayup terdengar lagu Anna Lee-nya Dream Theater mengalun sendu. Temanku menatap langit-langit kafe dengan tatapan kosong.
“Fren, cewekku dah ndak perawan lagi…” katanya tiba-tiba.

Aku kaget dan menatap mata kosongnya tidak percaya.

“Dia ngaku kemarin, padahal kita baru 3 bulan jadian, padahal aku dah percaya sama dia, padahal aku sama sekali ndak pernah nyentuh dia, padahal aku udah serius sama dia, padahal dia kelihatan begitu alim dan anggun, padahal aku niat ngelamar dia, padahal…..” dia masih bergumam pelan.

Aku masih belum sadar dan belum bisa berkata-kata. Kulihat di sudut matanya ada air yang bergulir. Begitu lama aku bergaul dengannya dan baru sekali ini aku melihatnya menangis.

Dia menarik nafas panjang, dalaaaammm sekali… “Aku ndak siap punya istri yang tidak perawan” sambungnya.
“Aku takut kalo suatu saat ada masalah dalam keluarga maka aku akan mengungkit hal itu, aku takut kalo suatu saat malah aku yang ndak kuat dan nyari cewek lain, aku takut….ah…..ndak tau lah” katanya sambil menghembuskan asap rokoknya.
“Fren, bantu aku…” katanya penuh harap. Dia menatap mataku begitu tajam dengan tatapan putus asa. Sebuah tatapan yang tak mampu aku balas.

Aku pun tertunduk dan menghisap rokokku lagi….masih terdiam.

Setengah mendesak dia bertanya: “Kenapa cewek begitu mudahnya menyerahkan dirinya sama cowok yang entah siapa dia, kenapa harus aku yang mengalami hal ini, apa dosaku? Apa salahku? Please fren, jawab!!!”.

Aku masih terdiam.

Sekilas aku teringat tentang temanku ini. Saat dulu ketika masih kuliah, jalan-jalan bersama, nganggur bersama, mencari pekerjaan bersama, masa-masa susah yang sudah dilalui…ah…semua begitu indah. Dia sangat baik. Dia terlalu baik untuk mendapatkan dan menghadapi masalah seperti ini. Pikiranku melayang-layang, berputar-putar, berusaha mengingat semua hal yang aku tahu, semua ilmu psikologi yang jelas tak kupahami, dan berusaha memposisikan diriku pada dirinya.

Akhirnya kuberanikan diri bertanya: “Kamu pernah tidur sama cewek ndak bro?”
Setengah tak percaya dia menatapku, seakan tidak menyangka kalo aku akan menanyakan hal tersebut. Dengan menghela nafas dia hanya balik bertanya: “Fren, kau sudah kenal aku lama kan?, menurutmu pernah nggak?”

Aku kembali terdiam.

Aku memutuskan untuk mencoba menenangkannya: “Ya disyukuri aja bro, semua itu Tuhan yang ngatur, Dia tahu yang terbaik buatmu. Kan untung taunya sekarang, coba kalo tau-nya besok kalo udah nikah, ya bersabar aja, lagian kan….”.
Belum selesai aku berbicara, dia menyela ucapanku dengan nada tinggi: “Jangan seenaknya gitu kamu bicara! kamu tu ndak ngalami sendiri! enak aja ngomong kayak gitu!!!! Coba kalo kamu yang kena, pake otak dong kalo ngomong. Sabar-sabar, syukur, b**l s**t!. “

Aku terhenyak, lemas, bersandar di kursiku, tidak mengira kalo dia akan semarah ini. Beberapa pengunjung kafe di meja lain agak kaget dan melihat kearah kami berdua. Dalam hati aku agak tersinggung dengan ucapannya barusan. Tapi…aku berusaha tenang, temanku sedang susah, jangan kutambah susahnya, aku hanya mengelus dada, berusaha menyelami perasaannya, berusaha menjadi teman yang baik. Dia cuma ingin didengarkan, jadilah pendengar yang baik.

Lama kami berdua terdiam. Tenggelam dalam pikiran masing-masing, hanya kegalauan yang terasa disekitar, ketika akhirnya dia berkata: “Ternyata cinta itu benar-benar buta dan membutakan ya, aku sayang sama dia, tapi….perlu ndak sih aku berpikir rasional di saat-saat kayak gini?”
Hanya satu kalimat yang bisa kukatakan: “Perlu bro, perlu banget…”

Kami masih sempat menghabiskan beberapa cangkir kopi malam itu, berusaha untuk saling berbagi, bertukar pengalaman yang berharga, saling belajar, dan membahas beberapa hal tentang kehidupan, kesetiaan dan keperawanan.

Dari sound kafe terdengar Learning to Life-nya Dream Theater mengalun indah:
I look at the world and see no understanding
I’m waiting to find some sense of strength
I’m begging you from the bottom of my heart to show some understanding
I need to live life Like some people never will
So find me kindness Find me beauty Find me truth
When temptation brings me to my knees And I lay here drained on stength
Show me kindness Show me beauty Show me truth

Perawan….perlukah????

Dan malam pun semakin larut…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 26 Desember 2008 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: