RSS

Awas, Ada Bayi Datang

12 Des

Apa yang akan anda lakukan kalau ada yang mengatakan bahwa ada orang yang sangat penuntut, tidak logis, egois dan pemarah yang bakal datang ke rumah anda dan menjadikan anda sanderanya sepanjang sisa hidup anda? Bagaimana anda mempersiapkan diri menghadapi kedatangan seseorang yang mewakili bentuk kehidupan manusia yang paling bawah – orang yang suka menggeram, ngiler, menjerit-jerit, tertawa-tawa ndak karuan – tidak baca tulis serta sama sekali tidak peduli tentang hak milik orang lain atau kesehatan pribadi?

Siapapun yang punya akal sehat pasti akan langsung memanggil keamanan, Centeng Bayaran, Polisi, bahkan memanggil satu regu Pasukan Anti Huru Hara ke rumah untuk mengamankan keadaan……

Tapi kenyataanya tidak ada yang bertindak begitu, sebaliknya, kita malah mempersiapkan kedatangan “tamu” ini dengan membelikan kaus kaki dan pakaian hangat, berlusin-lusin pakaian ganti, kasur mungil paling bagus yang empuk, kelambu dengan gantungan mainan yang imut diatasnya, peralatan mandi yang cantik, bedak dan teman-teman, mainan dengan segala macam tetek-bengeknya, membuatkan dan “mengakuisisi” domain web dengan namanya, memesan baju dan jumper khusus bertuliskan nama dan fotonya, bahkan membuka rekening bank dan asuransi untuknya, termasuk merenovasi dan mengisi kamar dengan perabotan, atau kalau perlu pindah rumah yang lebih nyaman dan lebih lega/luas.

Kalau sudah menyangkut persiapan menyambut kedatangan si bayi, uang dan waktu sudah tidak dipikirkan lagi, walaupun bayi itu akan menjadikan kita pelayan-pelayannya yang rela meladeninya demi memenuhi kesejahteraan hidupnya…selama-lamanya….

Kalau semua komentar saya diatas memberikan kesan negatif….ya maaph…..sebab sejujurnya justru saya sangat suka dan ingin sekali mempunyai anak….

Saya sempat berpikir bahwa mempunyai seorang bayi tidak akan merubah hidup saya, tapi ternyata banyak (dan buanyaaaaaaak sekali) pendapat berbeda: “Pandangan seperti itu naif mas, sebab begitu bayi itu lahir dan ada di rumah mas, maka dialah yang “berkuasa”…” ah, masaaak?

Dia yang “menentukan” kita boleh tidur atau tidak, boleh jalan-jalan sore atau tidak, dia juga yang “memutuskan” apakah kita boleh makan malam dengan tenang, atau nonton berita dan acara-acara TV lainnya, dimana, kapan, serta apakah kita bisa pergi berlibur. Bahkan kebutuhan si bayi dan perasaan tanggung jawab kita terhadapnya akan mempengaruhi hampir setiap tindakan dan keputusan yang kita ambil sejak hari kelahirannya.

Saya sempat membayangkan bahwa suatu hari nanti, entah bagaimana caranya, hari-hari yang saya jalani akan “lebih mudah”. Tapi jawaban dan kenyataan yang saya terima: Jangan harap itu terjadi, sebab nanti hari-hari malah akan menjadi lebih berat. Lupakan segala bayangan tentang kebebasan yang bisa diperoleh kembali seperti sekarang “kalau dia sudah bersekolah”, atau “kalau dia sudah cukup umur mengendarai motor atau mobil (amin amin amin) sendiri, atau “kalau dia sudah mulai kuliah”, sebab nanti kita yang bakal mengerjakan pekerjaan rumahnya, menghadiri petemuan orang tua–guru, acara-acara sekolah, dan berbagai macam bentuk “siksaan” lainnya. Lebih parah lagi, kita akan membayar mahal untuk semua itu, bukan hanya dengan waktu, tapi juga secara materi.

Ketika anak lulus kuliah, maka kita akan dibingungkan dengan karir mereka, berusaha mendampingi untuk mencarikan pekerjaan dan penghasilan yang layak, menemani dan menguatkan ketika mereka gagal berusaha, menikahkan dengan pendamping hidup idamannya, atau bahkan mencarikan jodoh kalau mereka sudah tawakkal dengan kejombloan-nya….

Bahkan menurut literatur sesat yang saya baca dan ajaran keliru yang saya dapat, ada kecenderungan bahwa setelah anak lulus kuliah atau menikah – entah mungkin lagi trend atau karena desakan ekonomi – anak-anak yang telah dewasa cenderung tinggal bersama orang tua mereka. Maka lengkaplah semua beban penderitaan….

Jadi bayangan bahwa punya anak tidak akan mengubah gaya hidup kita – dengan seketika, drastis dan selama-lamanya – benar-benar menggelikan, naif, dan kacau, sebab kenyataannya mereka tidak akan pernah lepas dari kehidupan kita.

Namun percayalah, kita akan sangat menikmati dan mensyukuri menjalani itu semua…

Semua hal diatas akan terjadi bila kita menjadi orang tua teladan yang membesarkan anak-anak kita dengan baik dan benar dengan penuh kasih sayang.

Disimpulkan dari penelitian tidak ilmiah yang meliputi wawancara dengan tetangga, ngobrol iseng dengan keluarga, angket bermetode “custler random puzing” di kantor dan studi pustaka dengan rujukan utama “Chicken Soup for the Expectant Mother’s Soul”

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 12 Desember 2008 in Uncategorized

 

2 responses to “Awas, Ada Bayi Datang

  1. ane

    16 Desember 2008 at 6:37 am

    zehhh.. yg mo py baby… ok lah

    he eh…bayiku yang kutunggu, mana kamu
    kapan mau buat bayi juga???

    Suka

     
  2. Mbelgedez™

    20 Desember 2008 at 12:51 am

    Udah lahir belom neh…..??? 😀

    HPL (Hari Pertama Lihat -dunia-) tanggal 15 Januari mbah…
    deg-degan…
    makasih dah mampir

    Suka

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: