RSS

Sepakbola vs Futsal

08 Des

Sekitar 4 tahun yang lalu, ketika saya masih kuliah, setiap sore saya sepakbola di lapangan UIN, atau kalau ndak saya sepakbola di lapangan Graha Sabha Pramana UGM. Waktu olahraga tersebut benar-benar digunakan untuk melepas lelah dan kepenatan setelah seharian ngeceng beraktifitas di kampus. Tidak ada yang lebih mengasyikkan kecuali sepakbola sore hari bareng teman-teman, dan itu sudah menjadi ritual wajib saya, kalo saya ndak datang, penggemar banyak yang protes: “siapa yang mau jadi anak gawang????

Kalo pas hari minggu pagi, biasanya kita ditantang main sama komunitas lain, dan untuk pemilihan lapangan saya dan teman-teman bersama si “musuh” tidak kesulitan untuk mencari tempat yang layak untuk bertanding, bisa dilapangan sepakbola Babarsari, Lapangan UPN, Lapangan STM Pembangunan, lapangan dekat STIE YKPN, Mancasan Wirobrajan, Klebengan UGM, Lapangan dekat AU (ada dua tuh), Lapangan Balai Yasa PERUMKA, Lapangan Realino Sanata Dharma – kalo lagi beruntung -, atau masih banyak pilihan lain, dan asyiknya lagi: semua GRATIS. Pertandingan tentu dilaksanakan lengkap dengan para penonton dan cheerleaders yang cantik, manis, n mlenuk-mlenuk (hue he he he he he), dan karena tidak ada pembatas antara lapangan dengan tempat penonton, maka sang pencetak gol harus bersiap-siap mendapatkan selamat, pelukan, ciuman, bahkan cacian (termasuk pukulan dan makian) dari supporter lawan. Mungkin lapangan di yogya belajar dari Tragedi Heysel, pertandingan antara Juventus n Liverpool yang banyak memakan korban karena penonton terjepit dan terhimpit pagar batas antara penonton dan lapangan, karena itulah lapangan sepakbola di Inggris ndak ada yang memakai pembatas. Ndak percaya????? Coba sekali-kali nonton liga Inggris, terutama kalo yang main Manchester United, Vatonino Ronaldo main lho….

Tahun 2004 saya “diluluskan” oleh kampus (pergi kamu dari sini dan bergabunglah dengan para pengangguran yang ada!!!!) dan kemudian menjadi mahasiswa Paksasarjana di UII, saya mulai meninggalkan kebiasaan saya sepakbola sore-sore. Kembali menjadi pemuda tidak sehat, main-makan-tidur-main-makan-tidur (lho, mana belajarnya???) tanpa olahraga, tapi tetap menjadi penonton setia semua Liga sepakbola yang disponsori Djarum Super. Saya mulai tidak menyadari bahwa terjadi pergeseran trend dari sepakbola satu lapangan ke Futsal (Telat banget ya Indonesia, futsal di Brazil sana udah diciptakan sejak tahun 1930, populer di Indon tahun 2005-an akhir (CMIIW), payah……) Apa yang salah dengan sepakbola???

Futsal: sepakbola dengan lapangan yang “seadanya”, pemain yang sedikit, bola yang berat, dan yang jelas ada karena semakin berkurangnya tempat untuk bersepakbola secara “sempurna”. Futsal hanya ada dan popular di daerah perkotaan yang sudah kekurangan, kehilangan lapangan dan daerah “nganggur”, coba kalo kita ke daerah pedesaan, tidak ada tuh futsal. Olahraga tiap sore hari dan minggu tetap tidak berubah; sepakbola. Seorang pemain futsal biasnaya lebih mengedepankan teknik bermain bukan stamina, dan stamina seorang pemain sepakbola dan futsal berbeda, seorang pemain sepakbola disuruh main futsal tetap bisa, tetapi seorang pemain futsal disuruh sepakbola??? Dijamin ngos-ngosan dan banyak kehilangan bola…..

Kemarin saya iseng menghitung lapangan futsal di seputaran Condong Catur Yogya, hasilnya???? Ada 7 saudara-saudara (CMIIW), itu saya hitung HANYA dari Jalan Nologaten (Amplaz) ke Utara dan Jalan Babarsari ke Utara (menthok di ringroad). Jumlah tersebut tidak termasuk yang ada seputaran Gejayan, Utara Ring Road (daerah Ekonomi UII), dan daerah Selatan Jalan Solo. Harga yang dipasang bervariasi antara 100rb-150rb PER-JAM main.

Harga segitu memang tidak seberapa karena ditanggung oleh min 12 orang, jadi ndak terasa. Tapi bukan itu masalahnya, masalahnya adalah apakah hanya untuk sekedar berolahraga kita harus membayar? Mungkin kalo untuk ukuran mahasiswa itu tidak masalah, tapi coba pikirkan bagaimana dengan nasib anak-anak kita besok? Apakah mereka hanya untuk sekedar bermain harus mencari dan booking lapangan? kadang-kadang tidak kebagian dan bahkan harus membooking dulu untuk antre, trus membayar hanya sekedar untuk bermain???? Kasian sekali nasib anak-anak kita besok……

Satu yang saya takutkan: terampasnya hak anak-anak kita esok untuk bermain-main dan bersenda gurau, hanya karena tidak ada lapangan/media untuk itu. Apakah kita memang harus mengungsi ke daerah Pedesaan agar anak kita dapat berkembang secara sewajarnya???

Saya yakin, futsal hanya awal, esok ke depan akan semakin banyak olahraga yang di”mini”kan dengan alasan fungsionalitas.

Tapi saya tetap berdoa semoga saya salah…

Semoga anak-anak kita kelak masih dapat bermain-bermain dan berkembang selayaknya seorang anak….

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 8 Desember 2008 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: