RSS

Tingkah Laku MLM’ers

30 Nov

Saya sore tadi keluar rumah dengan satu tujuan: ber wi-fi ria, sambil ngopi dan menikmati kesendirian. Menuju kafe langganan dengan riang gembira, siapa tau ketemu teman lama dari negeri antah berantah yang udah lama tidak ketemu…..

Ternyata Tuhan mendengar dan mengabulkan doa saya, disalah satu pojok ruangan ada 4 orang lelaki, yang sama sekali tidak kece, memanggil saya dengan hangat: “Vatonie, kesini dong nggabung”. Spontan saya melihat ke arah mereka dan mengenali bahwa salah satu dari mereka adalah teman lama karatan saya sejak SMA, memandang dengan penuh senyum kehangatan…tanpa pikir panjang saya langsung memesan kopi kenthel manis pake air panas buanget dan cemilan trus nggabung dengan mereka……

Jujur….saya mengharapkan sebuah pertemuan dengan teman lama yang hangat dan penuh persahabatan, penuh senyum dan cerita-cerita seru lainnya. Ternyata…..mereka lagi presentasi MLM saudara-saudara…. Mati Awak…….

Hancur sudah impian dan harapan tentang sore yang indah, tenang dan nyaman.

Sepanjang sore itu saya harus menyediakan sepenuhnya mata, telinga, dan perhatian saya kepada bahasa dan istilah umum MLM-ers: prospek, finansial freedom, pasif income, testimoni-testimoni yang dhoif, marketing plan, rekruitment bonus, matching bonus, sharing internasional, binary-matahari, motor-mobil-kapal-kapalan, wisata ke eropa-cina-US-sampai akhirat, distributor-manajer-gold-emas-kuningan (dan entah apalah jenjang tingkatannya, what the h***)…….

Yang membuat saya sangat kecewa: Teman saya seperti memang mempersilahkan saya untuk diprospek dan dijadikan “mangsa” oleh teman-temannya. Bahkan……….dia sendiri dengan tulus ikhlas mendukung (dengan setengah memaksa) saya untuk join dengan MLM tersebut.

Hampir saya ucapkan innalillahi wa inna ilaihi roji’un atas “matinya” persahabatan saya dengan dia…

Tapi saya masih sadar, saya setel kesabaran saya pada level 100, SEMPURNA!!!!!!!!!!! Saya pasang “topeng” tersenyum paling indah yang pernah mereka lihat. Saya matikan semua naluri pembelaan diri dan penyerangan terhadap semua pernyataan yang paling naif sekalipun. Sampai pada suatu ketika…..

Salah satu HP dari bapak-bapak presentator (eh…bener nggak istilahnya?????) itu berbunyi, dan karena mereka mengelilingi saya begitu dekatnya seperti orang lagi nyabung ayam, jadi saya bisa melihat dengan jelas siapa yang menelfon di layar hp: Kekasihnya. Saya sedikit merasa lega: “Alhamdulillah, berkurang satu pengeroyok-pengeroyok yang budiman ini”. Ternyata, dia melakukan sebuah tindakan yang tidak saya duga-duga: Dia mematikan (mereject) call tersebut. Hal tersebut dilakukan berkali-kali. Maka hilanglah rasa respek saya yang sudah saya bangun dengan susah payah (walau tetap ndak jadi-jadi) terhadap orang….eh salah….mereka semua….

Mas, dalam hidup ada yang namanya Skala Prioritas. Okelah, saya juga paham bahwa untuk hidup kita butuh makan, untuk makan kita butuh uang, dan untuk mendapatkan uang kita harus bekerja keras. Tapi dalam hidup ini ada yang lebih berarti dari hanya sekedar materi, materi, materi, materi, materi, dan materi: yaitu Keluarga. Keluarga dalam arti Bapak, Ibu, Saudara, Istri, Kekasih, dan mereka semua yang menyayangi kita. Apa sih susahnya mengangkat call hp tersebut untuk kemudian mengatakan padanya menelfon lagi nanti karena kita sedang sibuk misalnya?????? Itu akan lebih menghormati dan menjaga perasaan mereka yang sayang pada kita.

Mas, uang hilang bisa dicari, sebanyak apapun jumlahnya…..tapi kalo mereka yang sayang sama kita sudah pergi menghilang entah kemana dan tidak sudi dan peduli sama kita, dimana kita mencari penggantinya?????

Mas, kalo isi kepala anda masih ada dan sehat, tolong digunakan untuk berpikir….

Atau jangan-jangan seperti sabda mbah mbel: “Dalam kepalanya ada upilnya, jadi error deh…”

Tapi saya berdoa: semoga dugaan saya salah….

Update 8 Desember 2008:

Kemarin malam saya main di konter sahabat saya di seputaran Concat, tiba-tiba ada seorang ibu yang TIDAK DIKENAL minta tolong untuk nelfon dan sms. Karena kita adalah pemuda yang baik, maka ibu tersebut kita bantu dengan senang hati, namun ternyata……SMS yang dikirim nga’udzubillah banyaknya, saya sampe bingung: “ibu ini ndak punya malu ya???”. Setelah keperluan berakhir, Ibu tersebut masih menyempatkan diri untuk memprospek saya dan teman dan kemudian mengundang untuk datang di Seminar sebuah MLM di Hotel ********** besok hari. Ternyata Ibu tersebut MLM-ers juga….

Ampun……..

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 30 November 2008 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: