Kemarin abis nonton “Death Race“. Filmya bagus. aksi laganya mantap (Jason Satham punya nda…). Balapannya yang seru n sadis rada kejam didampingi navigator mlenukh bakal mengocok adrenalin. Tapi bukan itu intinya…ada sesuatu yang sangat menarik bagi saya di film itu. Sebuah kata-kata mendalam yang sangat mengena dan sempat membuat saya merenung.
Sebelumnya, ketika saya mengikuti jalan ceritanya, saya jadi teringat dengan beberapa film lain, yaitu Ocean Twelve, The One dan Rogue Assasins/WAR. Ada benang merah yang menghubungkan 4 film itu (sambil ngingat yang lain, mmmm) yaitu tentang indahnya balas dendam dan seseorang yang menjadi lebih baik ato berusaha menjadi yang terbaik dan menjadi lebih kejam setelah kehilangan orang yang sangat ia cintai.
Jadi ingat juga sama lagunya System of a Down: “Sweet Revenge”…
Di salah satu adegan, Jason ditanyai oleh Hennesey si pengelola penjara: “Apakah engkau mampu untuk menjamin masa depan yang baik untuk anakmu (dan keluargamu)? Tempatmu adalah disini, biarkan anakmu menyongsong masa depan yang lebih baik tanpamu bersama orang lain yang lebih baik…” (kalo’ ndak salah, CMIIW).
Saya sempat terpana sebentar, saya pause film (hayah, aslinya ndak ding) dan berpikir sejenak, berandai-andai apabila saya berada dalam posisi yang sama dan sangat kebetulan sekali saya sekarang adalah seorang ayah dari seorang anak yang suangat lucu dan seorang suami dari istri yang cuanthik apa yang akan saya jawab.
Pikiran melayang-layang, mencari-cari, berputar-putar mencari jawaban…lho, kok, malah pusing? Udah ah, diterusin lagi nontonnya… *segera ambil kembali cemilan dan membuat kopi -lagi- yang udah habis*
Di akhir film, sang jagoan kita mempertontonkan sebuah epilog yang sangat sempurna, sebuah kalimat yang sangat-sangat bagus. Sebelumnya, kembali ke pertanyaan di atas, apa tanggapan dia? Ini jawabannya (vatonie version):
“Aku tidak tau apakah aku bisa memberikan masa depan yang baik kepada anak dan keluargaku, aku ini bukan manusia sempurna, dan Tuhan tau bahwa aku tidak sempurna, tetapi Tuhan tetap percaya memberikan amanah ini kepadaku. Jadi, aku berpikir secara sederhana bahwa tidak ada yang menyayangi anak dan istriku melebihiku sayangku kepada mereka, dan bagiku itu sudah cukup untuk menjamin masa depan mereka“
THE END……………………………….